Akhirnya ke Belanda

Alhamdulillah, akhirnya tanggal 3 September sekitar pukul 09.40 Waktu Belanda, pesawat Garuda direct flight yang aku tumpangi dari Jakarta sejak 13 jam sebelumnya, mendarat di bandara Schipol, Amsterdam. Perasaan waktu itu? campur aduk.. .. penuh syukur tentunya. Alhamdulillah, akhirnya dimulai juga fase hidup berikutnya. Sekolah lagi! Penuh syukur karena kepastian keberangkatan baru didapet di akhir Juni. Dengan segala persiapan koboy, penuh drama, bobol2 deposito, deg2an ngurus2 dokumen, akhirnya hari ini datang juga. .. sedih. Karena sungguh makin jauh jarak fisik antara aku dengan anak-anak tersayang. Sungguh sejak memutuskan melanjutkan S2, gak terbersit sama sekali akan jauh dari anak-anak walau cuma sebentar. Di dalam visi misi yang aku rancang  keluarga adalah di atas segalanya. Bahwa kebersamaan dengan anak-anak adalah prioritas utama. Bahwa kebahagiaan mereka adalah  yang utama. Maka biasanya sesibuk apapun di kantor, selalunya menghubungi mereka secara rutin adalah agenda utama. Secapek apapaun pulang kantor, agenda main dan belajar bersama anak2 selalu yang utama. Terlebih lagi wik en. Seluruh daya upaya di jiwa, hati dan badan ini utamanya adalah untuk kebutuhan anak-anak. Tak aku pungkiri kadang menelusup perasaan bersalah karena gak bisa jadi ibu rumah tangga full dan menemani hari-hari tumbuh besar mereka. Rasa bersalah ini kadang kuakui membuat diri ini melakukan hal2 lebay untuk membuat mereka senang, yg kadang sebenarnya mereka mungkin gak butuh2 amat. Sedikit membocorkan sifat buruk hehe… Maka wajarlah ketika merancang misi S2 ke luar negeri, pertimbangan utama memilih negara dan memilih kota adalah demi bisa membawa anak-anak. Kenapa Eropa? karena setelah dilakukan perbandingan dengan bbrp negara di US dan Australia (tentu di univ2 yg ada di list kantor saya yang perfeksionis itu ^_^), Eropa lah yang paling masuk akal untuk itung2an finansial. Uang sekolah anak gratis. Matre ya kesannya? Gpp juga sih, karena kuliah sambil bawa anak di mataku nampaknya gak mudah juga. Aku gak mau perhatian kemudian terpecah2 antara kuliah dan mengurus anak dengan usaha2 mencari penghasilan tambahan. Bisa2 kuliah keteteran dan anak gak keurus karena emaknya sibuk nyari uang tambahan hehe. Karena itu aku hanya mencoba realistis. Uang saku dari kantor sebenarnya cukup jika sekolah sendiri, namun jika bawa keluarga tentu harus putar otak lagi dan bikin financial plan yang matang. Saya hanya mencoba realistis , yaitu memastikan anak2 saya aman secara finansial, shg kebutuhan dunia akhirat mereka bisa aku penuhi dengan baik.Alhamdulillah kantor saya yang baik itu selalu saja punya alternatif2 dikala kepusingan2 ini melanda :-) Jadi jelas ya kenapa pilih Eropa :-). Udah sempat mau ke Melbourne juga sebenarnya, karena relatif lebih deket ke Indonesia dan berbahasa Inggris. Kupikir investasi yang bagus jika anak2 dari kecil ngerasain SD di sana. Namun kemudian hitung2an uang sekolah nya buat aku  terlalu berat. Kasarnya 6jutaan/bulan/anak. Tinggal dikali 2 aja tuh buat abang dan adek hehe. US juga kayaknya gak jauh beda. Kenapa bukan Inggris? karena kuliah di Inggris rata2 cuma 1 tahun (yang IT ya..). Mau nya sih yang 2 tahun. Pengennya kegiatan sekolah ini manfaatnya gak cuma buat aku, tapi juga buat keluarga. Untuk membuka wawasan anak-anak secara global. Tentang kehidupan di belahan lain dunia. Belajar budaya bangsa lain. Syukur2 bisa terinspirasi ama hal2 positif. Tentang kegiatan beragama? Nah di sini lah peranan kita sebagai orang tua diuji. Masih bisa gak ngajarin agama ke anak-anak di tengah segala kesibukan duniawi. Bagi aku ini tantangan. Kenapa tidak? O iya, tentang kehidupan beragama, kehidupan berislam, terus terang aku punya teori yg agak nyeleneh :P. Mungkin banyak yg gak setuju. Tapi ini kan blog aku yak, suka2 donk, hehehe, Aku merasa justru di negara dimana muslim minoritas, kadar keimanan kita begitu bergelora. Hasrat untuk menggali ilmu agama demikian tinggi. Karena hal2 islami tidak terpampang dan sulit dicari, justru nurani kita malah makin rindu. Ukhuwah terasa manis. Membaca Qur’an sungguh nikmat. Belum lagi lingkungan fisik yang menunjang (sarana transportasi lancar, nyaman dan aman), maka menghafal al Qur’an menjadi aktifitas yang syahdu. Selama 5.5 tahun tinggal di Singapura, rasanya ber-islam di Singapura jauuuuuuuuuuuh lebih nyaman dibanding di Jakarta. Kalau boleh hiperbolis, 1 juta kali lebih nyaman deh. Karena itu pula jika kelak anak2 punya kesempatan kuliah di luar negeri, insyaAllah saya dukung. Tentunya dengan selalu menumpahkah Khouf-Mahabbah-Roja’ kepada Rabb yang Maha Perkasa. Dia yang Maha Memelihara. Dia yang Maha Kokoh, Maha Kuat, Maha Melindungi… Somehow aku percaya sekali, segala kemudahan2an langkah kita adalah atas ijinNya, berkat do’a-do’a tulus dari orang tua. Do’a yang mengguncang langit dan bumi. —- Lalu kenapa sekarang aku ke Belanda tanpa anak-anak? Nah itulah, kita memang gak boleh sombong sama sekali, bolehlah merancang visi misi sehebat mungkin, namun Allah selalu punya skenario. Dan skenario itu gak jarang berbeda dengan yang telah kita rancang. Benarlah kita ini insan yang lemah. Tiga bulan sebelum berangkat mendadak ada kejadian rumit yang membuatku gak bisa membawa anak-anak. Walau masih ada kemungkinan mereka akan menyusul. Sebuah kejadian yang mengguncang, dan terus terang aku tidak siap. ;Lingkungan yang mengenalku pasti paham banget kedekatanku dengan 2 bocah ini. Jangankan dipisahkan 2 tahun, atau sekian bulan, berpisah beberapa hari aja aku gak kuat. Dinas luar kota bagiku adalah sebuah siksaan berat hehe. Aku terguncang dan terpukul Sangat. Luar biasa. Ditambah lagi aku adalah tipe orang yg jarang punya kemampuan cukup menghadapi belokan2 tajam kehidupan. Kalau kata psikolog, aku ini kaku. Karakterku gak kuat jika ada liukan2 yg mendadak. Bagaimana mungkin aku bisa berpisah dengan anak-anak? walaupun akan menyusul bebrapa bulan kemudian, aku merasa jahat sekali. Buat apa aku ke Belanda sendirian? Toh kalau sekedar ngelanjutin s2 mah gak perlu jauh2 ke sini. Ngapain sekolah tinggi2 jika anak2 sendiri malah dititipin ke orang. Wah susah deh galaunya, sempat down berat berminggu2. Masalahnya aku juga udah gak bisa mundur. Uang sekolah udah dibayarin kantor, perpisahan ama rekan2 kantor di depan mata, persiapan kuliah dari berbagai pihak udah matang, benar2 tinggal jalan aja. Ngebatalin tiba2 juga gak mungkin, sebab aku punya tanggung jawab moral juga terhadap instansi tempat aku bekerja. Point of no return. Saat itulah aku merenung panjang. Apakah ini ujian? Apakah ini teguran? apakah ini cobaan? Ini termasuk kategori mana?. Namun apapun itu, semuanya harus dijalani. Hidup gak memberi kita pilihan untuk berjalan mundur. Keep keep swimming, kalo kata Nemo. Maka dengan tetap berfikiran positif atas rencana Allah, sambil terus introspeksi diri…, aku kuat2kanlah kaki ini untuk maju. Dengan hati berat kutitipkan anak-anak di Padang (karena yang menjaga mereka di sana lebih banyak dan lingkungan lebih kondusif bagi pertumbuhan anak, ketimbang Jakarta yang jeduk2..)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>