keep swimming

Saya tahu dan sadar diri bahwa yang sedang dan akan saya lakukan ini tidak mudah. Banyak faktor emosional bermain di dalamnya, terutama menyangkut perasaan was2 kepastian kapan anak2 bisa datang ke sini. Rindunya hati ini tak tertahankan. Bahkan sekedar mengungkapkannya melalui tulisan pun saya tidak berani. Saat rindu begitu memuncak, bahkan saya takut memandang foto-foto mereka, takut saya jadi tidak bisa menahan perasaan, lalu menghabiskan diri untuk melamun. Saya harus realistis, karena rupanya terkadang hidup tidak memberi kita pilihan lain selain maju terus berjalan, dan hadapi semuanya dengan gagah berani. Segala tangisan, air mata, kesedihan, pada dasarnya gak pernah memberi bantuan apapun. Itu selalu yang saya tekankan jika lemah mendera. Do’a.. ya, do’a adalah perisai saya berikutnya. Rasanya saya sedang diuji di titik yang paling lemah dalam diri saya, ketakutan terbesar dalam hidup saya yaitu jauh dari anak-anak. Suatu hal yang tak pernah menjadi lintasan fikiran walau sekejap. Saya jadi berfikir, jangan-jangan kebutuhan seorang Ibu untuk berada di sisi anaknya malah jauh lebih tinggi dari kebutuhan anak itu sendiri. Saya jadi bertanya-tanya, mungkinkah setiap kali kita berbuat sesuatu atas nama “demi anak saya”, tanpa sadar kita sebenarnya sedang melakukan pemenuhan paralel, yaitu “demi saya juga”. Jangan-jangan begitu. Entahlah,… Ya, begitulah jalan hidup, sebuah tikungan perjalanan tak selalu membentangkan panorama yang indah pernah dan penuh pesona. Ternyata terkadang ada jalan terjal yang harus didaki dengan mengerahkan segala daya upaya. Dan sayangnya kita gak ada pilihan untuk mundur. Seperti kata Dory dalam Finding Nemo : “Keep keep swimming, keep keep swimming” Den Haag, 15 September 2014, menjelang tengah malam.

Naik sepeda lagi

Kapan ya terakhir kali naik sepeda? SMP? Ah gak deh, jaman saya SMP di rumah keluarga kami yang ruamee itu gak ada yg namanya sepeda. Dan kalo diingat2 saya memang gak pernah punya sepeda. Bagi keluarga saya kala itu, sepeda adalah barang mewah dan kami gak mampu membelinya. Tapi samar2 saya ingat dalam kenangan ingatan SD kelas kecil (kelas 3 atau kelas 4), pernah belajar naik sepeda(entah punya tetangga yang mana), di teras sebuah rumah kosong. Di ingatan samar2 saya, rasanya pernah berombongan main ke rumah teman SD yang agak di tengah kota, lalu kami main sepeda sekitar 15 menit muter2 kompleks. Rasanya senang sekali kala itu, karena diperbolehkan Ibu main ke rumah teman yg relatif jauh kala itu (maklum rumah kami di pinggiran kota), dan dapat kesempatan naik sepeda! Nah itulah pengalaman saya naik sepeda. Bisa dikatakan jam terbang saya dengan benda itu kalau dijumlahkan mungkin cuma hitungan puluhan jam (atau jangan2 cuma belasan jam), saking jarangnya bersentuhan dengan sepeda. Nah sekarang, siapa sangka saya harus naik sepeda lagi. Yah sejak memutuskan sekolah ke Belanda udah agak menduga sih, karena denger2 di sini transportasi umum yang jamak adalah sepeda. Saya tinggal di Den Haag (karena kehabisan asrama mahasiswa), dan bersekolah di Delft. Setelah dapat sepeda baru (namun bekas), tadinya saya mau nekat aja bersepeda menempuh Den Haag – Delft yang jaraknya mencapai 10 km (katanya siih, belum pernah bener2 ngitung juga – via google maps). Namun kemudian beberapa rekan di kampus nampak cukup kuatir dengan gaya bersepeda saya yang tampak sangat newbie. Terlihat gak stabil, canggung, tiap ada tikungan berhenti dulu, tiap ada tanjakan berhenti dulu, tiap nyebrang jalan berhenti dulu. Haha kocak deh. Akhirnya saya tetep naik train dari Den Haag ke Delft, kemudian naik sepeda dari stasiun Delft ke TU Delft. Sepedanya tentu diparkir di Stasiun. Waah pengalaman yang luar biasa. Jarak tempuh gak terlalu jauh, mungkin cuma 2 – 2.4 km saja sekali jalan, tapi nafas ngos2an bangeeeeeeed. Maklum, saya kan jaraaaang berolah raga. Tapi rasanya senang sekali gak perlu lagi nunggu bis yang datangnya kadang gak bisa diprediksi. Bis di sini beda banget dengan train yang disiplin itu. Jadwal bis kayaknya suka mood2an deh. Pernah nunggu bis ampe nyaris 1 jam, akhirnya jalan kaki 2km. Angin bulan September juga mulai dingin, saya gak yakin apakah saat winter menjelang saya masih sanggup naik sepeda haha… Tapi untuk sementara dinikmati dulu deh :-) Udah seminggu di Belanda, pelan2 saya mulai adaptasi. Yah semoga saja makin banyak kemudahan deh :-) Den Haag, 9 Septe,ber 2014 *) workshop Financial Management har

Hari-hari I di Belanda

Postingan sebelumnya jadi agak melenceng yak ^_^ Pada dasarnya bisa menjejakkan kaki di sini adalah sebuah perjuangan yang lumayan berat. Ditambah lagi aku belum dibiayai kantor untuk biaya keberangkatan dan biaya bulan pertama. Untuk sebuah alasan yang tidak pada tempatnya di bahas di sini. However, aku tetap bersyukur udah diberi kesempatan sekolah di sini. Berbeda dengan waktu S1 di Singapura tahun 2000 silam,dimana di hari2 pertama kedatangan tidak ada hal mendasar yang aku kuatirkan. Di bandara Changi aku dijemput oleh pihak Singapore Ministry of Foreign Affairs (MFA), pihak yang memberi kami beasiswa. Lalu diantar ke kampus, di kampus udah ditunggu oleh senior mahasiswa Indonesia yang memang tiap tahunnya punya member2 yang membimbing anak baru yang baru datang. Sesampainya di kampus, ya udah, terserah anda. Dan beradaptasi di NTU sangat mudah. Asrama sangat keren (lengkap dengan internet akses) yang bagi kita saat itu adalah barang mewah. Dalam sekejap bisa punya komputer dengan ngambil loan dari kampus (yang juga barang mewah buatku saat itu). Soal makanan ga ada masalah, setiap kantin hampir selalu ada muslim food (melayu atau India). Rekan sesama Indonesia bejibun, dan lokasi asrama sangat walk-able. Untuk kebutuhan sehari2 yang gak dijumpai di supermarket kampus kami bisa penuhi di mall terdekat. Mencuci menyetrika juga mudah, tersedia mesin cuci gratis dan pakaian tinggal dijemur di area jemur. Kalau mau memasak tersedia dapur yang luas di tiap lantai.  Bisa dikatakan cuma butuh waktu beberapa hari buat adaptasi. Sekarang aku mau bandingkan dengan hari-hari pertama ku di Belanda ini. Boleh donk ya :-). Walau mungkin penilaianku di hari2 pertama ini akan berubah kelak seiring berjalannya waktu. Kupikir kemudian ya wajar lah jika adaptasiku di sini lebih sulit. Dulu usia masih 18, sekarang 33 tahun. Masa udah makin tua tetep ngeluh sih dikasih tantangan lebih. Gak banget gitu loh, uNisa ^_^

  1. Hari pertama kedatangan tidak ada seorangpun yang menjemputku ke Bandara, karena hari2 penjemputan oleh universitas udah lewat. Mahasiswa normal udah datang sejak pertengahan Agustus untuk kegiatan orientasi, daftar2, dan adaptasi. Sedang aku baru datang 3 September, udah gak ada lagi so-called rombongan mahasiswa yang akan dijemput. Jadilah sejak turun pesawat di Bandara Schipol, dengan bekal bismilah aja naik turun train dan metro seorang diri dengan modal pede aja tiap saat nanya orang dan minta bantuan saat kesulitan angkat2 koper. Ada kejadian lucu yang cukup bikin capek namun akan selalu lucu untuk dikenang. Jadi aku nyasar ke Student Hotel Amsterdam, padahal tempat yang aku tuju adalah Student Hotel Den Haag. Kenapa bisa begitu?? Karena aku menanyakan direction via email ke pihak hotel tanpa menyebut Den Haag, cuma bilang Student Hotel. Dan yang menjawab emailku adalah petugas di Amsterdam. Maka yaaa begitulah. PAdahal lokasi STudent Hotel Amsterdam cukup jauh, harus ganti dari train ke metro, sehingga lebih rumit pula kemudian perjuanganku untuk menemukan stasiun Den Haag HS. Alhamdulillah adri stasiun Den Haag HS aku gak perlu lagi naik metro, cukup jalan kaki. Alhamdulillah… Tapi capeknya memang luaaaaaar biasa. Tangan geret2 koper 30kg dan punggung dibebani ransel 15kg. Hehehehe.. asyik deh buat diceritain. Yah namanya juga hidup, kalau datar2 aja mungkin kita akan sulit bersyukur, karena merasa semuanya gifted.
  2. Tantang ke-2 adalah lokasi asrama. Asrama ku nuuuuuuun di area Den Haag Holland Spoor, sementara kampusku adalah di kota Delft. Nama kotanya aja udah beda ya hehe. Itu bermula karena aku telat memberikan confirmation letter ke University, sehingga asrama kampus udah penuh semua, jadilah aku dikasih pilihan stay di StudentHotel, yaitu semacam hotel bersubsidi untuk student. Yah, walaupun disubsidi tetap aja harganya jauuuuh di atas harga asrama biasa.  Jadi untuk confirmation statement ke kamus itu deadlinenya 1 july (dan orang2 biasanya udah urus sejak awal tahun), sementara kantorku baru bisa kirim confirmation letter tanggal 2 July. Penyebabnya juga gak mungkin kuceritain di sini, terlalu rumit dan bukan untuk konsumsi publik :-). Yang jelas mengucapkan syukur udah dikasih kesempatan sekolah tahun ini, karena kepastian boleh berangkat baru kudapat awal Juni, jadi sejak awal tahun kirain memang gak akan ke sini :-). Nah karena beda kota itu maka aku butuh waktu lebih untuk kuliah. Naik train dari Den Haag HS ke Delft (cuma 1 stasiun saja, 5 menit), dengan biaya 2.4 EUR, lalu naik bus ke kampus dengan biaya 2 EUR. Bolak balik butuh 8.8 EUR per hari. Lumayan kan biayanya. Bandingkan dengan tinggal di asrama kampus yang hanya perlu naik sepeda kemana2. Tapi ya lagi2 cuma bisa bersyukur, pasti ada sesuatu lah di balik semua ini.
  3. Soal makanan. Udah 3hari di sini aku belum bisa nemu makanan yang sreg di mulut. Gak kayak Singapura yang dimana2 bisa dijumpai makanan melayu, makanan india dan chinese food yang cocok di lidah. Untungnya aku dah diwanti2 senior di kantor yg pernah sekolah di sini supaya bawa rice cooker kecil, Jadilah tiap hari di kamar selalu tersedia nasi, dan aku bawa beberapa tuna kaleng. Masih bisa selamat lah.
  4. Tiap kamar di Student Hotel dilengkapi kamar mandi yang cukup besar, Alhamdulillah gak perlu sharing kamar mandi ama orang lain (maklum saya kan jijik’an hehehe), yang kuatirnya lebih jorok dari aku hehehe. Cuma saja tidak dilengkapi dapur. Yang ada adalah sharing kitchen yang terletak di sudut lantai dan lumayan spooky. Yang bikin agak males adalah buang sampah disini susah banget. Kantong plastik musti nyari sendiri, dan petugas hotel dah wanti2 agar dapur dibersihin sendiri oleh mahasiswa per lantai. Hotel cuma mungutin sampah. Lah waktu aku masuk aja dapurnya udah jorok gitu, masa gw yang bersihin. Curiganya kejorokan ini adalah hasil party-party penghuni kamar lain. Jadinya saya agak pundung dan memutuskan gak mau make dapur kecuali terpaksa, Makanya ini lagi nyari2 alat masak air panas. MInimal buat bikin mie lah. Lagi2 aku kangen asrama NTU yang ramah banget. Yaah mungkin ini karena tinggal di luar kampus ya, kali aja di kampus DELFT sendiri asramanya asyik juga.
  5. Masalah laundry di StudnetHotel juga gak asyik. Di NTU dulu mesin cuci tersedia gratis tinggal beli sabun aja. Kalo di sini sekali nyuci bayar 3.5 EUR, mengeringkan 4 EUR. Gedubraaaks dah. Yaah namanya juga hotel. Begitu aja sih aku menghibur diri. PAs mau nyuci eh mesinnya rusak, padahal duit udah ditelannya 3.5. EUR. Cuma bisa mengelus dada trus balik kanan dan bertekad nyari ember. Mau nyuci sendiri ajalah, toh di kamar bisa jemur2. Makanya nih wishlist saya hari ini adalah nyari EMBER dan SETRIKA. Cemunguuuudd!!!
  6. Orang Belanda pada dasarya menurutku ramah2, dan kata beberapa teman juga begitu. Orang Belanda cenderung lebih ramah ketimbang bangsa Eropa lainnya (katanyaaaaa siiih..). Pemuda2 gantengnya sangat helpfull (yoiiiih, mereka teh ganteng2 pisan yak? heran. Mestinya main pelem semua tuh), aku selalu terbantu sejak turun naik kereta, angkat-angkat barang, bahkan di kelas. Di hari pertama kedatangan, aku dah ketinggalan 3 sesi kuliah. Pemuda ganteng sebelahku pas tahu aku baru datang, langsung tergopoh2 menyodorkan bantuan berupa >>> cara membuka email, alamat web kampus, alamat web discussion forum, kopian bahan kuliah, dan dia menjelaskan itu di saat guru menerangkan pelajaran. AKu mayan terharu seeeeh. Kalau soal helpfull, dengan ini aku menyatakan orang Belanda lebih helpfull ketimbang di Singapore hehe (eiiits, ini kan baru 3 hari, kali aja ntar aku berubah fikiran hehehe).
  7. Tapi aku juga udah ketemu loh yang reseh. Jadi ceritanya aku lagi belanja ember dll, di toko yang namanya Blokker. Pas mau bayar, eh dia bilang gak terima pecahan 100 EUR. Gubraks dah. Padahal untuk mecapai toko itu, yang letaknya di Den Haag Centrum, aku harus jalan kaki bolak balik 5km loooh.. Haha nyesek banget pas ditolak. Akhirnya aku pulang dengan agak bete (namun terhibur oleh suasana jalanan yang indah, udara yang bersih dan kanal2 yang cantik), lalu aku mampir deh ke Supermarker Albert Heijn yang mau2 aja tuh aku bayar pake 100 EUR padahal cuma belanja 13 EUR. Yah aku baru tahu juga sih, ternyata di sini orang2 jarang pake cash. Jadi mungkin agak2 parno liat uang gede. Padahal kite di money changer Jakarte gak dikasih pecahan ketjil. Setelah pegel jalan kaki 5km, aku memilih duduk2 aja di depan Stasiun Den Haag HS yang cantik itu, sambil pijet2 betis, sambil memandang Trem2 cantik yang lalu lalang ^_^
  8. Aku kemarin sore sempat ikutan juga yang namanya Kopi Delft. Itu semacam pertemuan rutin mahasiswa Indonesia di Delft, yang biasanya mempresentasikan hal2 ilmiah. Kemaren sore ttg sebuah perlombaan skala internasional yang diikuti kampus, dan di dalam timnya terdapat 3 mahasiswa Indonesia. Tim mereka secara overal dapat juara 3. Kagum banget deh ama yang presentasi. Masih muda2 belia dan udah punya prestasi yang membanggakan dan membawa harum negeri ini. O iya. soal umur, untuk ukuran mahasiswa S2 aku termasuk tua renta hahaha.. yang lain rata2 usia 25-30 tahun. Yah mau gimana lagi dunks, konspirasi alam semesta baru mengijinkan sekolah sekarang ^_^
  9. Mahasiswa2 Indonesia di sini sekilas aku perhatikan lebih serius karakternya, ketimbang waktu di NTU dulu.  Banyak sih celetukan2 konyol dan lucu, namun overal di mataku suasananya agak serius ajah (ya mungkin juga karena topiknya kan memang bukan lucu2an yak hehe). Apa karena kita di NTU S1 ya, dan waktunya relatif lama (4 tahun), dan saat itu usia masih 17-23 tahun an. Sedangkan di Delft mahasiswa Indonesia rata2 adalah pelajar S2 dan S3. Poin yang ini enggak banget yak, baru aja ikut pertemuan sekali udah bikin kesimpulan aja hehehehe…

Sementara itu dulu ya yang bisa aku ceritakan. Blog ini kan memang blog yang serius, jadi anda tak akan menjumpai hal2 ilmiah di dalamnya (misal : tugas kuliah atau tesis hehe). Jadi di kisah2 berikutnya akan kuceritain lagi deh pengalaman2 di Belanda. Perjuangan untuk settle belum selesai loh, masih ada beberapa hal yang harus aku urus sendiri (sementra mahasiswa lain udah diurusin kampus), yaitu :

  1. Registration at the Municipality of the Hague (Gementee Den Haag), untuk mengurus masalah status kependudukan. Aku harus lakukan sendiri tgl 11 Sept 2014 ini, pukul 09.15 di Public Affairs (Publiekszaken), Spui 70, Den Haag. Gak tahu deh itu di mana hehe. Petualangan nyasar2 akan dimulai lagi neeeh… ^_^
  2. Janjian ama pihak bank buat bikin bank account, yaitu di ABN Bank , Dleft City Centre, Pynepoort 11. Hayyoo dimana itu
  3. Janjian ama pihak asuransi buat bayar asuransi
  4. Urus kartu mahasiswa
  5. lapor ke KBRI Den Haag

banyak juga ya? Smeua hal yang mestinya dilakukan di masa-masa sebelum kuliah. Tapi yah begitulah hidup yak. Rasanya egois banget jika seiring dengan bertambahnya usia aku malah bete dikasih tantangan lebih. Semoga aja ya, lancar semuanya :)

Akhirnya ke Belanda

Alhamdulillah, akhirnya tanggal 3 September sekitar pukul 09.40 Waktu Belanda, pesawat Garuda direct flight yang aku tumpangi dari Jakarta sejak 13 jam sebelumnya, mendarat di bandara Schipol, Amsterdam. Perasaan waktu itu? campur aduk.. .. penuh syukur tentunya. Alhamdulillah, akhirnya dimulai juga fase hidup berikutnya. Sekolah lagi! Penuh syukur karena kepastian keberangkatan baru didapet di akhir Juni. Dengan segala persiapan koboy, penuh drama, bobol2 deposito, deg2an ngurus2 dokumen, akhirnya hari ini datang juga. .. sedih. Karena sungguh makin jauh jarak fisik antara aku dengan anak-anak tersayang. Sungguh sejak memutuskan melanjutkan S2, gak terbersit sama sekali akan jauh dari anak-anak walau cuma sebentar. Di dalam visi misi yang aku rancang  keluarga adalah di atas segalanya. Bahwa kebersamaan dengan anak-anak adalah prioritas utama. Bahwa kebahagiaan mereka adalah  yang utama. Maka biasanya sesibuk apapun di kantor, selalunya menghubungi mereka secara rutin adalah agenda utama. Secapek apapaun pulang kantor, agenda main dan belajar bersama anak2 selalu yang utama. Terlebih lagi wik en. Seluruh daya upaya di jiwa, hati dan badan ini utamanya adalah untuk kebutuhan anak-anak. Tak aku pungkiri kadang menelusup perasaan bersalah karena gak bisa jadi ibu rumah tangga full dan menemani hari-hari tumbuh besar mereka. Rasa bersalah ini kadang kuakui membuat diri ini melakukan hal2 lebay untuk membuat mereka senang, yg kadang sebenarnya mereka mungkin gak butuh2 amat. Sedikit membocorkan sifat buruk hehe… Maka wajarlah ketika merancang misi S2 ke luar negeri, pertimbangan utama memilih negara dan memilih kota adalah demi bisa membawa anak-anak. Kenapa Eropa? karena setelah dilakukan perbandingan dengan bbrp negara di US dan Australia (tentu di univ2 yg ada di list kantor saya yang perfeksionis itu ^_^), Eropa lah yang paling masuk akal untuk itung2an finansial. Uang sekolah anak gratis. Matre ya kesannya? Gpp juga sih, karena kuliah sambil bawa anak di mataku nampaknya gak mudah juga. Aku gak mau perhatian kemudian terpecah2 antara kuliah dan mengurus anak dengan usaha2 mencari penghasilan tambahan. Bisa2 kuliah keteteran dan anak gak keurus karena emaknya sibuk nyari uang tambahan hehe. Karena itu aku hanya mencoba realistis. Uang saku dari kantor sebenarnya cukup jika sekolah sendiri, namun jika bawa keluarga tentu harus putar otak lagi dan bikin financial plan yang matang. Saya hanya mencoba realistis , yaitu memastikan anak2 saya aman secara finansial, shg kebutuhan dunia akhirat mereka bisa aku penuhi dengan baik.Alhamdulillah kantor saya yang baik itu selalu saja punya alternatif2 dikala kepusingan2 ini melanda :-) Jadi jelas ya kenapa pilih Eropa :-). Udah sempat mau ke Melbourne juga sebenarnya, karena relatif lebih deket ke Indonesia dan berbahasa Inggris. Kupikir investasi yang bagus jika anak2 dari kecil ngerasain SD di sana. Namun kemudian hitung2an uang sekolah nya buat aku  terlalu berat. Kasarnya 6jutaan/bulan/anak. Tinggal dikali 2 aja tuh buat abang dan adek hehe. US juga kayaknya gak jauh beda. Kenapa bukan Inggris? karena kuliah di Inggris rata2 cuma 1 tahun (yang IT ya..). Mau nya sih yang 2 tahun. Pengennya kegiatan sekolah ini manfaatnya gak cuma buat aku, tapi juga buat keluarga. Untuk membuka wawasan anak-anak secara global. Tentang kehidupan di belahan lain dunia. Belajar budaya bangsa lain. Syukur2 bisa terinspirasi ama hal2 positif. Tentang kegiatan beragama? Nah di sini lah peranan kita sebagai orang tua diuji. Masih bisa gak ngajarin agama ke anak-anak di tengah segala kesibukan duniawi. Bagi aku ini tantangan. Kenapa tidak? O iya, tentang kehidupan beragama, kehidupan berislam, terus terang aku punya teori yg agak nyeleneh :P. Mungkin banyak yg gak setuju. Tapi ini kan blog aku yak, suka2 donk, hehehe, Aku merasa justru di negara dimana muslim minoritas, kadar keimanan kita begitu bergelora. Hasrat untuk menggali ilmu agama demikian tinggi. Karena hal2 islami tidak terpampang dan sulit dicari, justru nurani kita malah makin rindu. Ukhuwah terasa manis. Membaca Qur’an sungguh nikmat. Belum lagi lingkungan fisik yang menunjang (sarana transportasi lancar, nyaman dan aman), maka menghafal al Qur’an menjadi aktifitas yang syahdu. Selama 5.5 tahun tinggal di Singapura, rasanya ber-islam di Singapura jauuuuuuuuuuuh lebih nyaman dibanding di Jakarta. Kalau boleh hiperbolis, 1 juta kali lebih nyaman deh. Karena itu pula jika kelak anak2 punya kesempatan kuliah di luar negeri, insyaAllah saya dukung. Tentunya dengan selalu menumpahkah Khouf-Mahabbah-Roja’ kepada Rabb yang Maha Perkasa. Dia yang Maha Memelihara. Dia yang Maha Kokoh, Maha Kuat, Maha Melindungi… Somehow aku percaya sekali, segala kemudahan2an langkah kita adalah atas ijinNya, berkat do’a-do’a tulus dari orang tua. Do’a yang mengguncang langit dan bumi. —- Lalu kenapa sekarang aku ke Belanda tanpa anak-anak? Nah itulah, kita memang gak boleh sombong sama sekali, bolehlah merancang visi misi sehebat mungkin, namun Allah selalu punya skenario. Dan skenario itu gak jarang berbeda dengan yang telah kita rancang. Benarlah kita ini insan yang lemah. Tiga bulan sebelum berangkat mendadak ada kejadian rumit yang membuatku gak bisa membawa anak-anak. Walau masih ada kemungkinan mereka akan menyusul. Sebuah kejadian yang mengguncang, dan terus terang aku tidak siap. ;Lingkungan yang mengenalku pasti paham banget kedekatanku dengan 2 bocah ini. Jangankan dipisahkan 2 tahun, atau sekian bulan, berpisah beberapa hari aja aku gak kuat. Dinas luar kota bagiku adalah sebuah siksaan berat hehe. Aku terguncang dan terpukul Sangat. Luar biasa. Ditambah lagi aku adalah tipe orang yg jarang punya kemampuan cukup menghadapi belokan2 tajam kehidupan. Kalau kata psikolog, aku ini kaku. Karakterku gak kuat jika ada liukan2 yg mendadak. Bagaimana mungkin aku bisa berpisah dengan anak-anak? walaupun akan menyusul bebrapa bulan kemudian, aku merasa jahat sekali. Buat apa aku ke Belanda sendirian? Toh kalau sekedar ngelanjutin s2 mah gak perlu jauh2 ke sini. Ngapain sekolah tinggi2 jika anak2 sendiri malah dititipin ke orang. Wah susah deh galaunya, sempat down berat berminggu2. Masalahnya aku juga udah gak bisa mundur. Uang sekolah udah dibayarin kantor, perpisahan ama rekan2 kantor di depan mata, persiapan kuliah dari berbagai pihak udah matang, benar2 tinggal jalan aja. Ngebatalin tiba2 juga gak mungkin, sebab aku punya tanggung jawab moral juga terhadap instansi tempat aku bekerja. Point of no return. Saat itulah aku merenung panjang. Apakah ini ujian? Apakah ini teguran? apakah ini cobaan? Ini termasuk kategori mana?. Namun apapun itu, semuanya harus dijalani. Hidup gak memberi kita pilihan untuk berjalan mundur. Keep keep swimming, kalo kata Nemo. Maka dengan tetap berfikiran positif atas rencana Allah, sambil terus introspeksi diri…, aku kuat2kanlah kaki ini untuk maju. Dengan hati berat kutitipkan anak-anak di Padang (karena yang menjaga mereka di sana lebih banyak dan lingkungan lebih kondusif bagi pertumbuhan anak, ketimbang Jakarta yang jeduk2..)