Telah Terbit : La Tahzan for Working Mothers. Beli ya…

Numpang promosi buku baru, terbitan Forum Lingkar Pena. Senangnya bisa ikutan nulis keroyokan dengan penulis favorit saya (mb Izzatul Jannah) dan penulis-penulis lainnya ^_^ Apakah cinta itu berarti harus selalu ada setiap saat? Apakah bukti cinta berarti dapat dipeluk kapan saja saat hati merana? Tak pernah pergi walau sesaat? Apakah cinta berarti menjadi sosok yang pertama kali terlihat saat mata terbuka, dan menjadi yang terakhir ditatap saat mata terpejam? Beberapa ibu rumah tangga yang Continue reading Telah Terbit : La Tahzan for Working Mothers. Beli ya…

Muslimah Hebat Itu Telah Tiada (ustdz Yoyoh)

Sabtu kemarin,  21 May 2011, Ustadzah Yoyoh Yusroh meninggal dunia. Penyebab meninggalnya adalah kecelakaan lalu lintas sepulang drai menghadiri wisuda anak tertuanya. Sedih sekali mendengar berita tersebut. Walaupun sama sekali belum pernah bertemu beliau, namun aku sering sekali mendengar kisah-kisah keteladanan dari Daiyah berputra 13 ini. Mulai dari sifatnya yang tawadhu, sederhana, tidak suka mengeluh, kepeduliannya terhadap sesama sampai metode pendidikannya terhadap anak-anaknya yang diantaranya telah sukses menghantarkan beberapa dari mereka menjadi Hafidz Qur’an seperti halnya beliau. Aku malu mendengar cerita bahwa disela kesibukannya sebagai Daiyah dengan segudang amanah yang diembannya beliau masih sempat membaca minimal 3 juz Qur’an setiap harinya, beliau masih mampu menjaga hafalan Qur’an nya. Subhanallah. Jadi malu, baru punya anak 2, jangankan menambah hafalan, menjaga hafalan yang segelintir aja rasanya susah bener. Nama beliau semakin harum setelah beliau meninggal. Begitu banyak tulisan-tulisan dan testimoni tentang jejak langkah yang telah beliau goreskan. Begitu banyak air mata haru melepas kepergian beliau. Ribuan orang yang tumpah ruah mengantar beliau ke tempat peristirahatan terakhir. Ribuan orang ingin ikut mensolatkan beliau dan sholat ghoib yang digelar di mana-mana.. Subhanallah… Betapa kualitas seseorang selama meninggal dapat dilihat dari suasana ketika beliau meninggal dunia.

Mari peduli lingkungan

Jakarta akhir-akhir semakin panas menyengat baik di dalam apalagi di luar ruangan. Bahkan pada saat tulisan ini diketik, penunjuk temperature di meja saya menunjukkan suhu 27 derajat Celcius. Gerah. Kalau tidak salah memang sedang ada upaya penghematan energy listrik,sehingga AC dari central tidak sedingin biasanya. Disamping itu hal ini mungkin juga terkait dengan suhu udara yang kian hari kian tak menentu.

 

Berbicara masalah suhu, belakangan saya  mulai merasakan meningkatnya atmosfer kepedulian terhadap lingkungan, baik dari rekan kerja maupun di berbagai kesempatan. Entah itu dampak dari kampanye tentang global warming atau memang kesadaran masyarakat telah tumbuh dengan sendirinya seiring dampak perubahan keadaan tren cuaca, iklim dan suhu akhir-akhir ini yang terasa cukup ekstrim.Tak jarang saya jumpai kutipan berikut di bagian footer  email : “Please consider the environment before printing this e-mail”. Demikian juga dengan meningkatnya kesadaran untuk menggunakan kertas bekas untuk keperluan printing atau keperluan lain. Di majalah annida terbaru saya temukan paragraph yang menyatakan bahwa pengiriman cerpen dapat dengan menggunakan kertas bekas untuk berpartisipasi dalam meminimalisir penggunaan sumber daya alam sekaligus mengurangi pemanasan global. Cool. Bahkan baru-baru ini ada usulan supaya bulletin dan majalah interen di kantor disajikan dalam bentuk pdf format instead of dicetak dan didistribusikan via email atau diupload lewat intranet.   Fokus kepada masalah global warming. Sampai saat ini masih terus berlangsung diskusi tentang masalah global warming itu sendiri, baik di kalangan ilmuwan ataupun praktisi. Mulai dari Inconvenient truth nya Al Gore yang dinilai banyak unsur politisnya sampai kepada diskusi-diskusi ilmiah. Ada juga  anggapan bahwa GW  adalah suatu keniscayaan, sebuah proses alam terlibat di dalamnya dan bukan merely hasil dari kreativitas tangan-tangan manusia sehingga yang bisa dilakukan adalah memitigasi bukan mencegah. Diantaranya seperti pendapat di sini dan di sini. Tidak seperti kutipan Al Gore di sini bahwa The vast majority of scientists agree that global warming is real, it’s already happening and that it is the result of our activities and not a natural occurrence. Thanks to mr Rovicky atas tulisannya Anyway,  tidak ada salahnya jika mulai dari sekarang menumbuhkan keikutsertaan dalam sebuah ajang kepedulian terhadap lingkungan mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Langkah-langkah kecil berikut bisa jadi sangat berarti,  diantaranya : 1.      Print dengan kertas bekas jika tidak begitu penting 2.      Atau kurangi melakukan printing jika memang tidak perlu 3.      Menggunakan kertas bekas sebagai notes 4.      Pakai tissue seperlunya saja 5.      Menanam pohon, menghijaukan lingkungan sekitar 6.      Mematikan lampu dan alat-alat listrik lainya ketika tidak diperlukan 7.      Bawa tas kain ketika berbelanja ke supermarket instead of meminta kresek (hmm .. agak repot kayaknya ya..) 8.      Mengurangi pemakaian kendaraan bermotor 9.      Ganti lampu-lampu di rumah dengan yang hemat energy 10.  Mengurangi pemakaian hair dryer. Lagipula mengeringkan rambut dengan hair dryer dapat merusak kesehatan rambut 11.  Menaikkan temperature Air conditioning (hmm berat memang, apalagi jika suhu lagi panas-panasnya) 12. Membaca koran online (jika punya jaringan internet) Demikian, ada ide lain? update @ 1.38 pm : dapat tambahan informasi dari mr Iman (thx pak) bahwa saat ini dapat juga membaca koran Kompas dan Koran Tempo lewat internet dengan tampilan benar-benar koran. silahkan klik (kompas) (koran tempo) Selain itu, untuk koran luar negeri (grup Times di India) (daily news India) di sini (ttg militer dan politik AS, kalo ini agak kuno karena dalam bentuk pdf dan harus didownload dahulu sebelum baca)

Ribetnya naik KRL

Semenjak tinggal di Depok(sawangan), jarak antara rumah-kantor rasanya semakin jauh. Dari rumah kontrakan ke stasiun Depok Baru naik motor butuh waktu 16menit, sedangkan naik angkot bisa 40menit. Terutama karena jalan raya sawangan macetnya ampun-ampunan deh kalo pagi. Ketidaknyamanan belum berakhir di sana. Perjalanan di KRL Depok Baru sampe Gondangdia atau Dukuh atas sungguh menyiksa. Antara lain karena : 1. Tidak beroperasi lagi KRL express, sehingga jarak tempuh sangat lama. Mencapai 50 menit 2. Kepadatan yang sudah tidak manusiawi. Sakit banget rasanya badan ini 3. Stasiun yang harus dilewati dan disinggahi mencapai 15 stasiun. Kalo dari Bintaro ke Tanah Abang, jarak yang ditempuh hanya 5 stasiun dan rata2 penumpang turun di Palmerah atau Tanah Abang. Beda banget dengan KRL Depok, dimana di setiap stasiun wajib berhenti dan pasti ada penumpang yang naik maupun turun. Siksaan terbesar adalah mempersiapkan celah untuk penumpang2 yang bakal turun. Alamaaaak, remuk deh badan ini. Bayangin untuk napas aja sesak. Ini masih ditambahi dengan desakan2 penumpang yang nyari2 jalan turun, Ya punggung, ya dada, ngilu2 kena himpitan penumpang lain yang memberi jalan, sikut, barang2.. Ya Tuhaaaaan… 4. KRL depok tentunya selalu melwati Stasiun Manggarai. Dan mengingat Manggarai adalah stasiun transit, tak jarang ada masalah. Kadang kereta ngetem dulu menjelang pintu stasiun. Waktu ngetemnya bisa 15menit sendiri. Dan tak jarang juga dapet limpahan penumpang dari krl2 sebelumnya (seperti pagi ini). Duh gusti. Miris banget negeri kita ini. Itu para pemangku2 kebijakan pada ngapain aja ya? Mbok ya sesekali turun gunung toh pak, bu. Apa tuan-tuan dan puan-puan harus menunggu adanya korban jiwa dulu sehingga baru mau memikirkan sedikit hal-hal yang bermanfaat bagi bangsa ini. Dimana-mana yang namanya sebuah peradaban itu ya mengejar kemajuan. Waktu denger berita KRL express mau dihapusin aja rasanya udah sedih banget. Ya Tuhan, ga ngerti deh.. Niatnya, kalau rumah di ciputat udah laku, mau nabung dulu aja. Kumpulin sumber daya untuk nyari rumah di dekat Jakarta. Kalau KRL kayak gini terus, sungguh ga sanggup.  Ongkos perjalanan yang sangat mahal (ditambah ojek dari stasiun ke kantor, karena ga ada kendaraan umum) + waktu tempuh yang lama banget + ketidaknyamanan yang menjadi-jadi –> membuatku harus berfikir 1000x deh kalau mau nyari rumah lagi…

Semalam di Singapura

Kayak judul lagu ya :) Semalam di Singapura rasanya benar-benar seperti obat penawar. Walaupun cuma semalam. Menyusuri jalanan-jalanan yang aku kenal, pojok-pojok penuh kenangan dan tempat-tempat yang menjadi saksi sejarah beberapa tahapan hidup. Seharian itu juga hati ini sedikit tercerahkan bahwa dulu pernah punya masa-masa yang sangat manis, bersama teman-teman yang sungguh menyejukkan. Dan sungguh aku mencintai mereka karena Allah. Karena keberadaan mereka pernah begitu memberi arti, bahkan setelah dipisahkan jarak dan waktu. Bayangkan bahagianya hati ini bertemu mereka. jangankan berjumpa fisik, selama ini sekedar mengenang memori-memori lama atau sekedar saling berbalas kabar saja sudah begitu membahagiakan hati. Apalagi berjumpa mereka secara fisik. Memang benar bahwa persaudaraan itu tidak hanya terbatas pada ikatan darah. Sore harinya alhamdulillah berkesempatan mengikuti acara bukber di KBRI, dan tak disangka-sangka jumpa banyak sekali sahabat di sana. Ada yang katanya sengaja datang ke KBRI karena ingin berjumpa. Subhanallah, pertemuan yang singkat namun sangat menyejukkan jiwa. Rasanya ingin menghentikan waktu. Tak terasa sudah 11 tahun sejak hari pertama aku mengenal mereka, dan tentunya sudah banyak yang berubah. Ada yang udah pada repot dengan anak-anak masing-masing, dengan pasangan masing-masing, atau dengan kisah-kisah masing-masing. Senyum-senyum itu masih sama, pelukan hangat itu masih sama, bahkan binar mata, cara bicara dan joke-joke yang masih sama. Rindu sekali..

Senyuman yang tersirat di bibirmu Menjadi ingatan setiap waktu Tanda kemesraan bersimpul padu Kenangku di dalam doamu Semoga… Tuhan berkatimu

Tak terasa malam menjelang, dan satu persatu kami harus saling pamit. Berat sekali rasanya, tapi memang kita tidak bisa terus-terusan tenggelam dalam nostalgia. Banyak sekali saling bertukar cerita, ada sedih ada bahagia. Di dalamnya insyaAllah terselip do’a do’a. Sekitar pukul 10.30 PM Singapore time, tak terasa tinggal aku, my rumie semasa di hall 9 si penggemar Banmian serta bumil penggemar kucing yang jago masak. Kami ber-3 dulu pernah jadi juara-3 di Muslimah-Only-Competition unuk urusan tari menari, saat itu kami membawakan tari piring ^_^. Kami susuri sepanjang jalan dari KBRI menuju bus-stop. Melanjutkan kembali kisah-kisah lama yang pernah ada. Semoga saja.. ya, semoga saja, bingkai kenanganini selalu menjadi pengikat hati-hati kami. Temans, engkau sungguh tak tergantikan… Saat harus berpisah, dan mereka hilang dari pandangan, tiba2 syair nasyid Brothers, Do’a Perpisahan, berkumandang di telingaku :

Pertemuan kita di suatu hari Menitikkan ukhuwah yang sejati Bersyukurku kehadap Illahi Di atas jalinan yang suci Namun kini perpisahan yang terjadi Dugaan yang menimpa diri Bersabarlah diatas suratan Kutetap pergi jua Kan kuutuskan salam ingatanku Dalam doa kudusku sepanjang waktu Ya Alloh bantulah hamba-Mu Mencari hidayah dari pada-Mu Dalam mendidikan kesabaranku Ya Alloh tabahkan hati hamba-Mu Diatas perpisahan ini Teman betapa pilunya hatiku Menghadapi perpisahan ini Pahit manis perjuangan Telah kita rasa bersama Semoga Allah meredhoi Persahabatan dan perpisahan ini Teruskan perjuangan Kan kuutuskan salam ingatanku Dalam doa kudusku sepanjang waktu Ya Alloh bantulah hamba-Mu Senyuman yang tersirat di bibirmu Menjadi ingatan setiap waktu Tanda kemesraan bersimpul padu Kenangku di dalam doamu Semoga… Tuhan berkatimu

[Cluster 19] selamat jalan Rum

Selamat  jalan Rum, Ternyata sms2 yang kuterima kemarin siang (hari Iedul adha) dari Dieni, bbm an yang kuterima dari bunda Majid, dan gtalk-an dari k dilsky itu benar adanya. Engkau telah tiada rum.  Siang ini aku benar-benar telah menyaksikan tubuhmu yg terbungkus kafan, wajah damaimu yang tenang. Bangun rum, banguuuuuun, teriakku dalam hati. Berharap engkau membuka mata, mengeluarkan sapaan ramah itu, senyum ceria itu dan suara riang yang dicintai banyak orang itu. Tapi engkau hanya diam, bersedekap, lelap. Rum, engkau sungguh dicintai banyak orang. Lihatlah air mata yang berlinangan di wajah-wajah di sekelilingmu. Engkau sungguh disayang. Dari dirimu kulihat begitu banyak kebaikan, begitu banyak sifat mulia. Sungguh malu rasanya jika dibandingkan dengan diriku. Siapa yg tak kenal wajah ceriamu, siapa yang bisa lupa sapaan ramahmu, siapa yang tak kenal kesungguhanmu menjaga silaturahmi, siapa yg tak kenal sifat pedulimu. Engkau pendengar yang baik, teman yang hangat, sahabat yang indah, ibu yang hebat. Siapa yang tak pernah merasakan bagaimana engkau selalu ingin membuat nyaman siapapun yang ada didekatmu. Yang mengenalmu pasti sayang padamu, rum… “Do’akan sakitku ga parah ya Rum, kasian si kecil jadi berhenti ASI, aku ingin sembuh segera, doakan sakitku ga aneh2 ya Rum..”, begitu katamu ketika aku jenguk di Iedul fitri (September 2010) di RSCM.  Karena pernah roomate-an, kita memang saling memanggil dengan panggilan “Rum”. Saat itu anakmu yg kecil baru 5 bulan. Saat itu belum ada yang menemukan bahwa sesungguhnya ada Tumor agresif di tubuhmu, di otak. Saat itu aku cuma tahu kamu Demam Berdarah dan sering sakit kepala. Kemudian waktu engkau keluar dari RSCM dan dinyatakan sembuh demam berdarah aku pernah berjanji akan menengok lagi. Tapi sebelum janji itu terlaksana aku dengar kamu sudah berobat lagi di Singapura, Rum. Lalu kemudian operasi di otak. lalu kemudian dalam waktu yang sangat singkat dikabarkan bahwa yang engkau derita sesungguhnya tumor yang sangat agresif dan sudah menyebar kemana-mana. Yaa Rabb.. Hampir setiap hari aku dan Bunda Majid membicarakan engkau dan saling mengupdate kabar2 yang kami terima dari sahabat2 di Singapura, Rum. Kami selalu optimis engkau bakal sembuh. Walau kemudian kamis kemarin kami dengar engkau mulai kehilangan kesadaran, kami tetap optimis dan memanjatkan do’a. Setiap harinya kami berharap akan mendengar kabar bahwa engkau bangun, sadar dan perlahan2 pulih kembali. Sebelum engkau dioperasi, sahabat2 di sgp mengabarkan bahwa sungguh lemah kondisimu, Rum. Bahkan tidurpun tak bisa telentang karena begitu hebat sakit yang kau derita di area tulang belakang. Namun kami juga mendengar kabar bahwa sesakit apapun yg kau derita, kau tak pernah tinggalkan Shalat. Bagaimana airmata ini tak berlinang mengingat tegarnya sosokmu dan begitu inginnya engkau sembuh kembali, Rum. Suntikan semangat mengalir dari segala penjuru. Dari semua teman-temanmu. Lihat Rum, engkau sungguh dicinta… 17 November 2010, di hari Iedul Adha, akhirnya aku menerima kabar sedih itu. Engkau telah tiada, Rum. Aku sempat berharap bahwa kabar ini tidak benar. Tapi datangnya dari sahabat2 yang begitu terpercaya. Ya Allah Rum, seperti ada lubang besar menganga di hati ini. Engkau sudah tiada… Sungguh telah tiada. Begitu sayangnya Allah padamu Rum, secepat ini DIA rindu untuk segera memanggilmu ke sisiNya… Tadi malam sambil meninabobokan Hafidz dan Hanif air mata ini tak henti bercucuran. Teringat Anak tertuamu yang besok baru akan berusia 3 tahun, dan bayi kecilmu yang masih berusia 7 bulan. Setiap kali memandang dan mencium Hafidz dan Hanif , di ruang mata ini hadir juga engkau dan anak-anakmu Rum… Anak-anak yang belum mengerti sama sekali bahwa ibunya (sosok yang sangat hebat!) sudah tak ada lagi di dunia ini untuk memeluk dan mencium mereka. Suatu saat wahai Rumie, akan kami ceritakan ttg sosokmu yang indah kepada anak-anakmu. Dan kami selalu doakan anak-anakmu akan menjadi pribadi-pribadi yang sholeh, hebat dan tangguh seperti engkau… Selamat jalan Rumie, Aku baru mengenalmu di July 2000. Lalu mengenalmu dalam begitu banyak kenangan. Kemudian berkesempatan sekamar di flat legendaris itu (664D) cuma 6 bulan (sehingga engkau tetap kupanggil rumie). Di awal 2006 aku pindah ke Jakarta dan kita baru berjumpa lagi 3 kali. Yaitu saat aku melahirkan Hanif, Saat menengok engkau sakit dan tadi pagi menjumpai engkau yang lelap dalam damai. Selamat jalan, Raphita.. Aku yang baru mengenalmu 10 tahun rasanya telah sedih begini hebat. Bagaimana dengan sahabat2 yang telah begitu lekat menganal sosokmu. Apalagi orang tua, keluarga, suami…. Tentu mulai sekarang hari-hari yang akan mereka lalui tak lagi sama dengan ketika kau masih ada. tak akan pernah sama pit. Kenangan tentangmu tentu lebih menghunjam hebat di hati-hati mereka, dibanding aku yg baru mengenalmu…  Kamu sangat dicinta,Rum… Selamat jalan, Rumie…

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’una wa inna ila rabbina lamunqalibuna. Allahummaktubhu ‘indaka fil muhsinina, waj’al katabahu fi ‘illiyyina wakhluf fi ahlihi fil gabirina : “Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya dan kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah! Tulislah dia (yang meninggal dunia) termasuk golongan orang-orang yang berbuat kebaikan di sisi Engkau dan jadikanlah tulisannya itu dalam tingkatan yang tinggi .”

Semoga Daneesh dan Raheesh menjadi anak-anak sholeh yang selalu mendoakan engkau. Semoga kenangan tentangmu menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk berbuat kebaikan,Rum. Selamat jalan Rumie, sampai jumpa lagi. Kenangan tentangmu akan selalu ada di hati, dan setiap mengenangmu kami kirimkan do’a selalu…

Begitu indah

Tahukah engkau kawan, Bahwa di dunia ini selalu ada sosok-sosok yang begitu menginspirasi. Sosok-sosok yang begitu tangguh yang membuat kita (saya dalam hal ini) seringkali mengingatnya. Tidak ! ianya bukanlah tokoh dunia, bukan pula pahlawan kemerdekaan apalagi sosok dari negeri dongeng, dan tidak selalu berasal dari keluarga kita. Ianya bisa berasal dari teman-teman, Sahabat-sahabat, Sahabat-tak-kesampaian, maupun individu yang pernah hadir selintas saja dalam hidup kita.  Saya seringkali teringat akannya (mereka). Sering merasa malu untuk hal-hal yang belum dapat saya lakukan sepertinya (mereka). Sering merasa takjub akan gema dari jejak langkahnya(mereka). Sering merasa iri karena saya belum mampu melompat tinggi sepertinya (mereka). Bahkan tak jarang merasa begitu kerdil karena terlalu banyak hal yang tak dapat lagi saya lakukan, telah saya tinggalkan, telah meredup atau bahkan telah hilang dari hidup saya, semata karena halangan-halangan duniawi yang sungguh tak berarti kelak  Namun sering juga saya tersenyum. Bahagia. Bahagia menjadi saksi diam-diam untuk sesuatu yang sangat berarti. Sukacita yang kerap menjelma menjadi dahaga rindu yang menggulung-gulung memerihkan mata… akupun ingin..  Kapankah segala yang hilang itu bisa kembali. Kapankah saya bisa mengikuti jejak langkanya(mereka)  Akhir-akhir ini saya terlalu sering menanyakan itu. Sedikit demi sedikit semoga perlahan-lahan menangkap bayang-bayang..  

 

//Jakarta oh Jakarta

 

Ketupat Ceker Tengah Malam di Emperan Kota Depok

Sebenarnya sudah lama denger tentang ketupat sayur plus ceker ayam di emperan jalan Nusantara, Depok. Bahwa warung itu dibuka setelah jam 12 malam, bahwa cekernya murah meriah, bahwa suasana makan tengah malam di emperan pinggir jalan sungguh mengasyikkan, bahwa temen makannya adalah aktivis-aktivis pedagang sayur di pasar. Sebenarnya sudah lama juga pingin menjajal wisata kuliner unik ini, tapi baru kemarin ada kesempatan. Kesempatan tiba ketika jam 11 malam baru hendak pulang ke rumah dan mendapati bahwa Continue reading Ketupat Ceker Tengah Malam di Emperan Kota Depok

[Cluster 19] Ketupat Ceker Tengah Malam di Emperan Kota Depok

Sebenarnya sudah lama denger tentang ketupat sayur plus ceker ayam di emperan jalan Nusantara, Depok. Bahwa warung itu dibuka setelah jam 12 malam, bahwa cekernya murah meriah, bahwa suasana makan tengah malam di emperan pinggir jalan sungguh mengasyikkan, bahwa temen makannya adalah aktivis-aktivis pedagang sayur di pasar. Sebenarnya sudah lama juga pingin menjajal wisata kuliner unik ini, tapi baru kemarin ada kesempatan. Kesempatan tiba ketika jam 11 malam baru hendak pulang ke rumah dan mendapati bahwa Continue reading [Cluster 19] Ketupat Ceker Tengah Malam di Emperan Kota Depok