Hafidz Sakit

Nak Hafidz sakit, ada infeksi di alat kelaminnya. Bundo sedih, sakitnya baru ketahuan sekarang karena Hafidz memang ga mau bilang kalau ada sakit/masalah di badannya, itu pun baru  ketahuan ketika Bundo mandiin… Jika radangnya udah membaik, Hafidz harus segera disunat… cepat sembuh ya Hafidz…

Hafidz milad ke-4

Alhamdulillah, Nak Hafidz hari ini berusia 4 tahun. 4 tahun sudah Nak Hafidz menjadi Cahaya mata Abah dan Bundo Menambahkan keceriaan, kebahagiaan, suka cita dan makna bagi hidup kami. kembali Bundo ulang rangkaian kalimat berikut, disetiap hari ulang tahun Hafidz… Nak Hafidz, sebagaimana nama yang Abah dan Bundo pilihkan untk engkau, teriring do’a supaya engkau menjadi anak yang sholeh, pintar dan menjadikan Hafidz Qur’an sebagai salah satu pilar kehidupan. Nama ini Bundo pilihkan jauh-jauh hari bahkan jauuuh sebelum Bundo ketemu Abah. Nama ini Bundo pilihkan suatu masa ketika Bundo pernah ditempa oleh wanita-wanita sholehah nun di negeri temasek sana untuk mencintai Qur’an, menghafal Qur’an sebanyak-banyaknya. Ketika Bundo merasakan bahwa ayat-ayat Qur’an yang Bundo hafal, bukanlah sekedar hafalan biasa. Namun seperti yang dijanjikan Allah, hafalan itu kemudian menjadi penjaga, menjadi Hafidz bagi setiap hal yang Bundo lakukan. Dan Bundo seringkali merasakan hafalan tsb turun drastis bahkan banyak yang hilang ketika Bundo kemudian mengalami penurunan kualitas keimanan atau mendekati maksiat. Hafalan Qur’an bundo yang tidak seberapa itu kemudian seolah menjadi alert, menjadi warning ketika bundo mulai ‘melenceng’. Lalu kemudian Nak, Bundo menjadi takjub dengan kekuatan Hafalan Qur’an, dengan efek yang dia timbulkan dan dengan peringatan-peringatan yang muncul secara alami. Bundo kemudian menjadi bertekad untuk menghafal sebanyak-banyaknya. Namun kemudian hal ini justru terhenti setelah Bundo semakin sibuk dan semakin sibuk dengan urusan duniawi. Sungguh banyak pembenaran. Sungguh terlalu banyak alasan dan pembenaran. Dan bahkan ketika ini ditulis, sudah lama sekali ketika ayat terakhir ‘bertambah’ ke dalam koleksi hafalan Bundo. Sudah terlalu lama. Hitungan tahun. Nak hafidz, dibalik segala kekurangan dan ketidaksempurnaan ini, Bundo tetap meniatkan dan berusaha keras agar hafalan-hafalan ini kembali kokoh dan kembali bertambah. Bundo juga berdo’a semoga Allah memberikan bundo usia yang penuh berkah sehingga Bundo mampu mendidik Nak Hafidz dan dek Hanif menjadi pribadi-pribadi sholeh yang  tidak hanya sibuk mengejar dunia namun juga sibuk membangun istana di Surga. Sungguh kalian anak-anakku, adalah amanah luar biasa yang Allah titipkan bagi kami. Yang  harus kami  jaga dan didik untuk menjadi pribadi-pribadi yang menakjubkan. Sungguh kalian anak-anakku, adalah cerminan prilaku dan akhlak kami, sehingga harus selalu kami berikan contoh teladan yang baik. Doa Nabi Zakaria Surah Ali-Imran[3]:37-38 “… Rabbi habli dzurriyyatan thayyibah, innaka samii’ud du’aa’ …” “… Wahai Rabb ku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa …” Doa Nabi Ibrahim ‘alayhissalam QS.Ash Shaaffaat : 100 “Rabbi habliy minashshaalihiin” (Tuhanku anugerahkanlah kepadaku [seorang anak] yang termasuk orang2 yang shaleh)

Berenang di Atlantis, Main ke Monas dan Museum

Berenang di Atlantis, Ancol Sebagaimana janji bundo, abis kursus dan ujian IELTS bundo akan ajak anak2 berenang di Atlantis, Ancol. lalu bersama Abah, uwak, ibu dan om Louvit, anak2 riang sekali berangkat ke Atlantis. Kami terakhir ke sana februari 2011. Sudah lama sekali. Maklum, tahun 2011 penuh dengan hal2 yang $@%^$@&”:^# Jam 6.30 pagi kami menuju stasiun Depok baru, dalam keadaan cuaca HUJAN LEBAT!. Yak, hujan tidak jadi halangan bagi Hafidz Hanif. Bundo juga tak kuasa membendung kebahagiaan mereka yang dari subuh sudah mondar mandir di dalam rumah. Hari itu hujan ga henti2 dari pukul 3 pagi. Kami tetap berangkat dgn harapan sampe di Ancol hujannya reda. Dan ternyata benar! Hafidz antusias sekali berenang, sementara Hanif masih takut2 dan ngotot ga mau ngelepasin topinya. Paling gembira ketika kolam raksasa kemudian berubah menjadi kolam ombak. Hafidz bahagiaaaaaaaaaa sekali. Hanif menjelang pukul 11.30 kecapean, mandi lalu bobo. Ketika waktunya pulang, Hafidz susaaaaaaaaaah sekali diajak pulang, dan butuh perjuangan berat untuk mengajak Hafidz pulang.  Hari itu melelahkan sekali, namun sangat menggembirakan. Kami semua lelah, terutama akibat sarana transportasi Jabodetabek yang jelek. Di stasiun Kota paling melelahkan, peron kereta Depok-Bogor TIDAK ADA tempat duduk.  Capeeek sekali bergiliran menggendong Hafidz Hanif yang bobo. Akhirnya dgn cueknya kami lesehan di lantai beralas koran hehe…. Pengalaman yang melelahkan namun menyenangkan. Main ke Monas dan Museum Salah satu visi dan misi Bundo dalam pendidikan anak adalah seminimal mungkin mengajak mereka ke MALL. Namun hidup di jabodetabek dengan misi kayak gitu beraaaaaaaaaat. Mau jalan kemana lagi?. Kalau di Singapore tersedia banyak sekali taman dan perpustakaan publik yang oke punya. Di sini? Mimpi kali yeee… Setelah terwujd berenang di Atlantis (dengan segala perjuangan serunya!), minggu depannya giliran Monas yang kami kunjungin. Hafidz semangaaat sekali, karena ketika naik kereta ke Ancol, Hafidz terkejuut waktu melihat Monas muncul dengan gagahnya dari depan Stasiun Gambir.  Sayangnya ketika sampai di Monas udara puanaaaaaaaaaaaaaaas minta ampun. Namun tidak mengurangi semangat hafidz yang penasaran lari2 ditengah panas dan ngotot ingin masuk ke dalam Monas. Keinginan Hafidz diaminin Hanif yang belakangan jadi ‘yes-man’ banget deh di depan abang Hafidz. Hafidz menolak berjalan ke Monas dengan mengitari taman, tapi memilih lari2 luruuuuus ke arah Monas. It Meaaanss, berjalan ditengah terik panas. Siang itu kami juga nyobain naik kereta2an menuju terowongan pintu Monas. Capeeeeeeeek. Bundo sampe pusing, tapi berusaha cuek melihat anak2 sungguh tak kenal lelah. Pulang dari Monas, Hafidz minta ke Museum. Jadilah kita berjalan kaki lagi dari dalam Monas menuju stasiun Transjakarta. Lumayaaaan jauhnya, apalgi sambil gantian gendong 2 bocah yang makin beraaat. Amboi dah… turun Naik Transjakarta, jalan ke Museum naik turun lorong underpass, lumayan deh keringetan dimana2. Sekilas tentang Museum yang kami kunjungi Sampe di Museum, kelelahan kami kembali terobati dengan Museum yang super canggih dan cantik banget interiornya. Hawa yang sejuk karena dilengkapi pendingin ruangan, serta kondisi museum yang megah, kuno namun terawat dengan sangat baik. Anak2 senang dengan permainan tangkap koin, di ruang peralihan. Anak2 juga senang duduk2 di ruangan gelap teater atau bioskop Museum yang keren walaupun sedang tidak memutar film.  Bangkunya yang didisain sedemikian rupa, benar2 pengalaman baru yang tak terlupakan Ada diorama pelabuhan abad ke 16 dengan gentong2 berisi rempah2, miniatur kapal kayu dan layar2 TV vertikal dan horizontal menceritakan ttg perdagangan di Nusantara abad ke 16. Interiornya cuantiiiik banget dah. Ada patung pekerja pribumi dan china yang lagi berusaha masukin barang2 ke miniatur kapal. Dilengkapi dengan backsound suara burung2 camar. mantap dah! Di ruang sebelahnya ada diorama Bank Courant en Van Leening (bener ga tuh spellingnya hehe). Tentang cikal bakal perbankan di Nusantara. Menceritakan transaksi perbankan sederhana di sebuah ruangan bergaya abad 18, lengkap dgn patung seorang tionghoa dan Belanda yg sedang berbincang2. Ruangan dilengkapi dgn aksen2 kecil yang memperkuat suasana, misalnya jendela kuno, jam kuno, buku2 kuno dan kalender kuno. Hafidz  juga nyangkut lama di display baju2 kuno yang dipamerkan di LANTAI. yo’i, di lantai dan ditutupin kaca. Anak2 ampe tidur2an di sana melototin isinya. Bundonya langsung manyun dan nyuruh mereka berdua ganti baju abis tour museum. Kemudian ada diorama ruangan perbankan awal abad 19 (eeeeh bener ga yeee, apa abad 20 ye), yang sudah lebih modern bahkan dilengkapi dengan brankas raksasa penyimpanan uang. Patung2 di ruangan yang ditutupi dinding2 kaca transparan itu itu terasa nyata banget, bahkan kalau kita melintasi dinding kaca, keluarlah bunyi mesin aktivitas mesin ketik. Kemudian ada diorama peperangan lengkap dengan patung2 pejuang lagi merayap di tanah, dilengkapi juga tv2 super mungil (belasan inci) yang menempati diorama pohon2 karet, menceritakan kondisi peperangan. Dan tentunyaaa diiringi dengan backsound suasana perang yang membahana. DAR DER DOOOR!! Hanif terkaget2 sambil peluk2 Bundo. Berikutnya, ada diorama pembangunan2 di Indonesia di awal kemerdekaan, termasuk diorama proses renovasi gedung museum saat ini yang dulunya merupakan rumah sakit Belanda yang telah berdiri sejak tahun 1828 (CMIIW). Semua patung dan wallpaper dalam nuansa abu2, kecuali sebuah sepeda kuno (sepeda beneran!) yang berwarna merah. Tak lupa ditingkahi backsound tukang2 yang lagi bekerja. TAK TEK  TOK! TAK TOK TOK! Aduh banyak banget deh ruangan2 keren lainnya yang susah banget dipercaya keindahannya kalau ga diliat langsung. Tak lupa kami mengunjungi ruang emas dan ruang koleksi uang-uang kuno. yah, begitulah kira2 perjalanan anak2 dalam 2 minggu ini. Kecapean? sooo pasti. Namun banyak pengalaman menarik dan setidaknya bundo dah perkenalkan hal2 menarik bagi anak2, yaitu : Berenang, taman monas dan museum. Nah, sekarang Bundo masih mencari alternatif tempat main lainnya… any idea?

Berenang di Atlantis, Main ke Monas dan Museum BI

Berenang di Atlantis, Ancol Sebagaimana janji bundo, abis kursus dan ujian IELTS bundo akan ajak anak2 berenang di Atlantis, Ancol. lalu bersama Abah, uwak, ibu dan om Louvit, anak2 riang sekali berangkat ke Atlantis. Kami terakhir ke sana februari 2011. Sudah lama sekali. Maklum, tahun 2011 penuh dengan hal2 yang $@%^$@&”:^# Jam 6.30 pagi kami menuju stasiun Depok baru, dalam keadaan cuaca HUJAN LEBAT!. Yak, hujan tidak jadi halangan bagi Hafidz Hanif. Bundo juga tak kuasa membendung kebahagiaan mereka yang dari subuh sudah mondar mandir di dalam rumah. Hari itu hujan ga henti2 dari pukul 3 pagi. Kami tetap berangkat dgn harapan sampe di Ancol hujannya reda. Dan ternyata benar! Hafidz antusias sekali berenang, sementara Hanif masih takut2 dan ngotot ga mau ngelepasin topinya. Paling gembira ketika kolam raksasa kemudian berubah menjadi kolam ombak. Hafidz bahagiaaaaaaaaaa sekali. Hanif menjelang pukul 11.30 kecapean, mandi lalu bobo. Ketika waktunya pulang, Hafidz susaaaaaaaaaah sekali diajak pulang, dan butuh perjuangan berat untuk mengajak Hafidz pulang.  Hari itu melelahkan sekali, namun sangat menggembirakan. Kami semua lelah, terutama akibat sarana transportasi Jabodetabek yang jelek. Di stasiun Kota paling melelahkan, peron kereta Depok-Bogor TIDAK ADA tempat duduk.  Capeeek sekali bergiliran menggendong Hafidz Hanif yang bobo. Akhirnya dgn cueknya kami lesehan di lantai beralas koran hehe…. Pengalaman yang melelahkan namun menyenangkan. Main ke Monas dan Museum Bank Indonesia Salah satu visi dan misi Bundo dalam pendidikan anak adalah seminimal mungkin mengajak mereka ke MALL. Namun hidup di jabodetabek dengan misi kayak gitu beraaaaaaaaaat. Mau jalan kemana lagi?. Kalau di Singapore tersedia banyak sekali taman dan perpustakaan publik yang oke punya. Di sini? Mimpi kali yeee… Setelah terwujd berenang di Atlantis (dengan segala perjuangan serunya!), minggu depannya giliran Monas yang kami kunjungin. Hafidz semangaaat sekali, karena ketika naik kereta ke Ancol, Hafidz terkejuut waktu melihat Monas muncul dengan gagahnya dari depan Stasiun Gambir.  Sayangnya ketika sampai di Monas udara puanaaaaaaaaaaaaaaas minta ampun. Namun tidak mengurangi semangat hafidz yang penasaran lari2 ditengah panas dan ngotot ingin masuk ke dalam Monas. Keinginan Hafidz diaminin Hanif yang belakangan jadi ‘yes-man’ banget deh di depan abang Hafidz. Hafidz menolak berjalan ke Monas dengan mengitari taman, tapi memilih lari2 luruuuuus ke arah Monas. It Meaaanss, berjalan ditengah terik panas. Siang itu kami juga nyobain naik kereta2an menuju terowongan pintu Monas. Capeeeeeeeek. Bundo sampe pusing, tapi berusaha cuek melihat anak2 sungguh tak kenal lelah. Pulang dari Monas, Hafidz minta ke Museum. Jadilah kita berjalan kaki lagi dari dalam Monas menuju stasiun Transjakarta. Lumayaaaan jauhnya, apalgi sambil gantian gendong 2 bocah yang makin beraaat. Amboi dah… turun Naik Transjakarta, jalan ke Museum naik turun lorong underpass, lumayan deh keringetan dimana2. Sekilas tentang Museum yang kami kunjungi Sampe di Museum, kelelahan kami kembali terobati dengan Museum yang super canggih dan cantik banget interiornya. Hawa yang sejuk karena dilengkapi pendingin ruangan, serta kondisi museum yang megah, kuno namun terawat dengan sangat baik. Anak2 senang dengan permainan tangkap koin, di ruang peralihan. Anak2 juga senang duduk2 di ruangan gelap teater atau bioskop Museum yang keren walaupun sedang tidak memutar film.  Bangkunya yang didisain sedemikian rupa, benar2 pengalaman baru yang tak terlupakan Ada diorama pelabuhan abad ke 16 dengan gentong2 berisi rempah2, miniatur kapal kayu dan layar2 TV vertikal dan horizontal menceritakan ttg perdagangan di Nusantara abad ke 16. Interiornya cuantiiiik banget dah. Ada patung pekerja pribumi dan china yang lagi berusaha masukin barang2 ke miniatur kapal. Dilengkapi dengan backsound suara burung2 camar. mantap dah! Di ruang sebelahnya ada diorama Bank Courant en Van Leening (bener ga tuh spellingnya hehe). Tentang cikal bakal perbankan di Nusantara. Menceritakan transaksi perbankan sederhana di sebuah ruangan bergaya abad 18, lengkap dgn patung seorang tionghoa dan Belanda yg sedang berbincang2. Ruangan dilengkapi dgn aksen2 kecil yang memperkuat suasana, misalnya jendela kuno, jam kuno, buku2 kuno dan kalender kuno. Hafidz  juga nyangkut lama di display baju2 kuno yang dipamerkan di LANTAI. yo’i, di lantai dan ditutupin kaca. Anak2 ampe tidur2an di sana melototin isinya. Bundonya langsung manyun dan nyuruh mereka berdua ganti baju abis tour museum. Kemudian ada diorama ruangan perbankan awal abad 19 (eeeeh bener ga yeee, apa abad 20 ye), yang sudah lebih modern bahkan dilengkapi dengan brankas raksasa penyimpanan uang. Patung2 di ruangan yang ditutupi dinding2 kaca transparan itu itu terasa nyata banget, bahkan kalau kita melintasi dinding kaca, keluarlah bunyi mesin aktivitas mesin ketik. Kemudian ada diorama peperangan lengkap dengan patung2 pejuang lagi merayap di tanah, dilengkapi juga tv2 super mungil (belasan inci) yang menempati diorama pohon2 karet, menceritakan kondisi peperangan. Dan tentunyaaa diiringi dengan backsound suasana perang yang membahana. DAR DER DOOOR!! Hanif terkaget2 sambil peluk2 Bundo. Berikutnya, ada diorama pembangunan2 di Indonesia di awal kemerdekaan, termasuk diorama proses renovasi gedung museum saat ini yang dulunya merupakan rumah sakit Belanda yang telah berdiri sejak tahun 1828 (CMIIW). Semua patung dan wallpaper dalam nuansa abu2, kecuali sebuah sepeda kuno (sepeda beneran!) yang berwarna merah. Tak lupa ditingkahi backsound tukang2 yang lagi bekerja. TAK TEK  TOK! TAK TOK TOK! Aduh banyak banget deh ruangan2 keren lainnya yang susah banget dipercaya keindahannya kalau ga diliat langsung. Tak lupa kami mengunjungi ruang emas dan ruang koleksi uang-uang kuno. yah, begitulah kira2 perjalanan anak2 dalam 2 minggu ini. Kecapean? sooo pasti. Namun banyak pengalaman menarik dan setidaknya bundo dah perkenalkan hal2 menarik bagi anak2, yaitu : Berenang, taman monas dan museum. Nah, sekarang Bundo masih mencari alternatif tempat main lainnya… any idea?

Berenang di Atlantis dan Main ke Monas

Berenang di Atlantis Sebagaimana janji bundo, abis kursus dan ujian IELTS bundo akan ajak anak2 berenang di Atlantis, Ancol. lalu bersama Abah, uwak, ibu dan om Louvit, anak2 riang sekali berangkat ke Atlantis. Kami terakhir ke sana fenruari 2011. Sudah lama sekali. Maklum, tahun 2011 penuh dengan hal2 berat. Sejak peristiwa perampokan di rumah, lalu pindah rumah, kami nyaris belum pernah jalan2 yang seperti ini. Sibuk menata hidup, menata hati, menata persepsi, menata harapan, menata langkah 😉 2 minggu lalu, Bundo ngajak anak-anak  jalan-jalan ke Monas.  Karena nunggu anak2 bangun, kita berangkatnya kesiangan. Anak2 senang sekali