Setelah menonton “Ketika Cinta Bertasbih – The Movie”

“Jika saya punya anak gadis seperti Anna, lalu datang dua lelaki yang melamarnya, yang satu sangat serius belajar dan sedang menyelesaikan program masternya, sedangkan yang satu (belum lulus s1) dan sibuk berjualan tempe dan bakso, kira-kira yang mana yang akan saya pilih?” demikian kira-kira petikan ucapan ustadz Mujab kepada Azzam. Dialog ini salah satu yang paling membekas dalam diri saya setelah menonton film ini. Tentunya tiap penonton akan membawa pulang kesan yang berbeda. Tapi bagi saya inilah salah satu realitas hidup sesungguhnya yang kadang-kadang oleh Continue reading Setelah menonton “Ketika Cinta Bertasbih – The Movie”

Hari ke-2

Kaki ini semakin teguh menopang fisik dan jiwa yang koyak. Walau setiap langkah sungguh pahit, namun bukankah kita cuma punya 1 pilihan terhadap setiap persoalan hidup? yaitu : Maju terus ! Malu dengan usia jika terus-terusan meratapi kepiluan dengan lagu-lagu syahdu. Buat apa? Kenapa tak cari saja penawar luka, meskipun bekasnya akan tetap ada selamanya. Jika kemarin setiap hentakan nafasku menjelma menjadi hunjaman seribu jarum menusuk qalbu, mungkin saat ini tinggal 750 jarum. Perihnya masih sama. Tapi, adakah badai yang tidak berlalu? Satu-satunya pertanyaan adalah. Berapa lama aku mampu hadapi ini. Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mengubah 750 jarum itu menadi 1 atau bahkan nol? Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk bisa melihat jejak luka itu kelak sambil tersenyum dan tidak lagi menangis? Kemudian berucap lega : “Oh Allah, sungguh luar biasa tarbiyahMu…” Kapan? Berapa bulan? Berapa Tahun? atau, berapa puluh Tahun lagikah?

Mengaku sabar

Setelah bertahun-tahun ikut acara Kajian Muslimah di kantor, baru kali ini pembicaranya ngomong gini : “Saya ini termasuk salah satu manusia yg telah lulus ujian kesabaran, telah banyak ujian sabar yang berhasil saya lalui. Saya udah pantas dapat predikat manusia yang sangat sabar” Entah kenapa, kok ngedengernya ga enak gitu ye?  Lalu beliau mencontohkan betapa sabarnya dia ketika menghadapi macet (??)) Memang sih dari awal beliau ini bilang dia bukan ustadzah, dia cuma jadi pembicara2 kayak gini setelah pensiun kerja. Tapi  karena topik materinya hari ini adalah ‘Life is a choice’, kupikir tadinya menarik banget. Dan pembicara kajian umum seperti ini kan ga harus ustadzah lulusan timteng (seperti biasa), atau aktivis dakwah atau alim ulama dst. Siapapun bisa jadi pembicara disini. malah tak jarang financial planner juga jadi pembicara di forum kajian pekanan ini. Audience nya kan sangat beragam. Ketidak-sreg an itu makin berlarut-larut ketika beliau justru sibuk menceritakan kehebatan dan kelebihan dirinya. Malahan mulai membanding-bandingkan kualitas dirinay dengan teman-temannya yang menurutnya kurang sabar, kurang bisa memilih kata-kata yang baik, kurang bijak dan segala kekurangan lainnya. Bahkan beliau ini ga segan-segan menceritakan kekurangan-kekurangan suaminya sebagai bahan becandaan. Naudzubillah :( Keadaan makin parah ketika dia juga menceritakan tentang pola pengasuhannya terhadap ke-3 anak lelakinya. Bagaimana  dia menasehati mereka supaya hati2 memperlakukan teman dekat wanita. Jangan disenggol2 (??). Malah suatu saat kata2nya vulgar banget, sampai bilang gini  “berteman dengan teman wanita hati2, gemboknya jangan sampai dibuka” WHAAATTTTTT??? Ketika bagian itu, aku langsung deh keluar dari ruangan. Walk out bo’. Dan yang keluar ga cuma aku sendiri. beberapa teman juga keluar dengan alasan jengah.  Bahkan kemudian aku juga ketemu dengan beberapa panitia Kajian Muslimah pekanan yang tampaknya agak menyesalkan kejadian ini. Duh, semoga gak keulang lagi deh ya :(