selamat jalan Rum

Selamat  jalan Rum, Ternyata sms2 yang kuterima kemarin siang (hari Iedul adha) dari Dieni, bbm an yang kuterima dari bunda Majid, dan gtalk-an dari k dilsky itu benar adanya. Engkau telah tiada rum.  Siang ini aku benar-benar telah menyaksikan tubuhmu yg terbungkus kafan, wajah damaimu yang tenang. Bangun rum, banguuuuuun, teriakku dalam hati. Berharap engkau membuka mata, mengeluarkan sapaan ramah itu, senyum ceria itu dan suara riang yang dicintai banyak orang itu. Tapi engkau hanya diam, bersedekap, lelap. Rum, engkau sungguh dicintai banyak orang. Lihatlah air mata yang berlinangan di wajah-wajah di sekelilingmu. Engkau sungguh disayang. Dari dirimu kulihat begitu banyak kebaikan, begitu banyak sifat mulia. Sungguh malu rasanya jika dibandingkan dengan diriku. Siapa yg tak kenal wajah ceriamu, siapa yang bisa lupa sapaan ramahmu, siapa yang tak kenal kesungguhanmu menjaga silaturahmi, siapa yg tak kenal sifat pedulimu. Engkau pendengar yang baik, teman yang hangat, sahabat yang indah, ibu yang hebat. Siapa yang tak pernah merasakan bagaimana engkau selalu ingin membuat nyaman siapapun yang ada didekatmu. Yang mengenalmu pasti sayang padamu, rum… “Do’akan sakitku ga parah ya Rum, kasian si kecil jadi berhenti ASI, aku ingin sembuh segera, doakan sakitku ga aneh2 ya Rum..”, begitu katamu ketika aku jenguk di Iedul fitri (September 2010) di RSCM.  Karena pernah roomate-an, kita memang saling memanggil dengan panggilan “Rum”. Saat itu anakmu yg kecil baru 5 bulan. Saat itu belum ada yang menemukan bahwa sesungguhnya ada Tumor agresif di tubuhmu, di otak. Saat itu aku cuma tahu kamu Demam Berdarah dan sering sakit kepala. Kemudian waktu engkau keluar dari RSCM dan dinyatakan sembuh demam berdarah aku pernah berjanji akan menengok lagi. Tapi sebelum janji itu terlaksana aku dengar kamu sudah berobat lagi di Singapura, Rum. Lalu kemudian operasi di otak. lalu kemudian dalam waktu yang sangat singkat dikabarkan bahwa yang engkau derita sesungguhnya tumor yang sangat agresif dan sudah menyebar kemana-mana. Yaa Rabb.. Hampir setiap hari aku dan Bunda Majid membicarakan engkau dan saling mengupdate kabar2 yang kami terima dari sahabat2 di Singapura, Rum. Kami selalu optimis engkau bakal sembuh. Walau kemudian kamis kemarin kami dengar engkau mulai kehilangan kesadaran, kami tetap optimis dan memanjatkan do’a. Setiap harinya kami berharap akan mendengar kabar bahwa engkau bangun, sadar dan perlahan2 pulih kembali. Sebelum engkau dioperasi, sahabat2 di sgp mengabarkan bahwa sungguh lemah kondisimu, Rum. Bahkan tidurpun tak bisa telentang karena begitu hebat sakit yang kau derita di area tulang belakang. Namun kami juga mendengar kabar bahwa sesakit apapun yg kau derita, kau tak pernah tinggalkan Shalat. Bagaimana airmata ini tak berlinang mengingat tegarnya sosokmu dan begitu inginnya engkau sembuh kembali, Rum. Suntikan semangat mengalir dari segala penjuru. Dari semua teman-temanmu. Lihat Rum, engkau sungguh dicinta… 17 November 2010, di hari Iedul Adha, akhirnya aku menerima kabar sedih itu. Engkau telah tiada, Rum. Aku sempat berharap bahwa kabar ini tidak benar. Tapi datangnya dari sahabat2 yang begitu terpercaya. Ya Allah Rum, seperti ada lubang besar menganga di hati ini. Engkau sudah tiada… Sungguh telah tiada. Begitu sayangnya Allah padamu Rum, secepat ini DIA rindu untuk segera memanggilmu ke sisiNya… Tadi malam sambil meninabobokan Hafidz dan Hanif air mata ini tak henti bercucuran. Teringat Anak tertuamu yang besok baru akan berusia 3 tahun, dan bayi kecilmu yang masih berusia 7 bulan. Setiap kali memandang dan mencium Hafidz dan Hanif , di ruang mata ini hadir juga engkau dan anak-anakmu Rum… Anak-anak yang belum mengerti sama sekali bahwa ibunya (sosok yang sangat hebat!) sudah tak ada lagi di dunia ini untuk memeluk dan mencium mereka. Suatu saat wahai Rumie, akan kami ceritakan ttg sosokmu yang indah kepada anak-anakmu. Dan kami selalu doakan anak-anakmu akan menjadi pribadi-pribadi yang sholeh, hebat dan tangguh seperti engkau… Selamat jalan Rumie, Aku baru mengenalmu di July 2000. Lalu mengenalmu dalam begitu banyak kenangan. Kemudian berkesempatan sekamar di flat legendaris itu (664D) cuma 6 bulan (sehingga engkau tetap kupanggil rumie). Di awal 2006 aku pindah ke Jakarta dan kita baru berjumpa lagi 3 kali. Yaitu saat aku melahirkan Hanif, Saat menengok engkau sakit dan tadi pagi menjumpai engkau yang lelap dalam damai. Selamat jalan, Raphita.. Aku yang baru mengenalmu 10 tahun rasanya telah sedih begini hebat. Bagaimana dengan sahabat2 yang telah begitu lekat menganal sosokmu. Apalagi orang tua, keluarga, suami…. Tentu mulai sekarang hari-hari yang akan mereka lalui tak lagi sama dengan ketika kau masih ada. tak akan pernah sama pit. Kenangan tentangmu tentu lebih menghunjam hebat di hati-hati mereka, dibanding aku yg baru mengenalmu…  Kamu sangat dicinta,Rum… Selamat jalan, Rumie…

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’una wa inna ila rabbina lamunqalibuna. Allahummaktubhu ‘indaka fil muhsinina, waj’al katabahu fi ‘illiyyina wakhluf fi ahlihi fil gabirina : “Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya dan kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah! Tulislah dia (yang meninggal dunia) termasuk golongan orang-orang yang berbuat kebaikan di sisi Engkau dan jadikanlah tulisannya itu dalam tingkatan yang tinggi .”

Semoga Daneesh dan Raheesh menjadi anak-anak sholeh yang selalu mendoakan engkau. Semoga kenangan tentangmu menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk berbuat kebaikan,Rum. Selamat jalan Rumie, sampai jumpa lagi. Kenangan tentangmu akan selalu ada di hati, dan setiap mengenangmu kami kirimkan do’a selalu…