Duka di Ranah Minang

Duka, duka dan duka menggantung di langit dan menaungi wajah-wajah yang masih terpana dalam kekagetan di sana, di ranah minang tercinta. Tangan inipun rasanya tak mampu mencoba memetakan tentang apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan tentang satu episode yang menggayut di sana, di ranah minang tercinta. Ngeri, jeri. Hilang kata. 30 September 2009, selamanya akan menorehkan kisah sedih yang begitu memilukan untuk ranah  minang dan segenap penghuninya. Gempa bumi dengan kekuatan 7,6 SR telah mengoyak-ngoyak dan menghancurkan negeri tercinta dengan dampak yang sulit diungkapkan. Pilu rasanya menyaksikan kota Padang, kota yang begitu aku kenal, terkoyak-koyak, hancur lebur, luluh lantak, dengan deraian air mata duka dimana-mana. Hampir semua bangunan bertingkat mengalami kerusakan, mulai dari sedikit runtuh, rusak parah sampai nyaris rata dengan tanah. Ratusan korban berjatuhan dan diyakini masih ada ratusan lagi yang masih tertimbun. Sudut-sudut kota yang kukenal dari kecil, tak akan pernah sama lagi. Gempa ini tak pandang bulu, mulai dari hotel, rumah, ruko, universitas, sampai pusat bimbingan belajar yang sedang dipadati siswa-siswa SD dan SMP. Anak-anak imut yang sedang serius menuntut ilmu. Ya Rabb, bagaimana meleraikan duka yang begini hebat terutama untuk pihak-pihak yang ditinggalkan keluarga tercinta selamanya. Tak hanya kota Padang, tapi juga begitu banyak kota-kota lain di sekitarnya. Bahkan di Kabupaten Pariaman, 3 dusun hendak dijadikan kuburan massal, karena gempa yang kemudian disusul hujan lebat dan tanah longsor di sana telah menyulap dusun yang tentram menjadi sebuah tanah lapang basah yang menimbun ratusan jiwa di bawahnya. Ya Rabb, bagaimana meleraikan duka yang begini hebat terutama untuk pihak-pihak yang ditinggalkan keluarga tercinta selamanya. Kadang tak hanya 1 orang, tapi bisa 3, 6 bahkan sekaligus ditinggalkan 15 kerabat keluarga untuk selamanya. Bagaimana menguatkan hati menghadapi duka yang demikian hebat. Kehancuran yang sama juga dialami daerah-daerah lainnya merata hampir di seluruh Sumatera Barat bahkan sampai ke jambi. Duhai Dzat yang menggenggam jiwa-jiwa kami, tolonglah beri ketabahan pada saudara-saudara kami, berilah kesabaran yang berlipat ganda, keikhlasan yang berlapis-lapis, agar kaki-kaki kami yang sangat lemah ini masih mampu terus melangkah menyongsong perjalanan berikutnya demi menggapai cintaMu. Air mata ini rasanya tak henti-henti mengalir menyaksikan setiap pemberitaan di televisi. Tuhan, deraikanlah duka di hati saudara-saudara kami di sana. Duka yang sungguh tak terperikan rasanya. Perasaan gundah, cemas dan gelisah yang sempat saya rasakan 18 jam lamanya karena tak mampu menghubungi satupun keluarga besar di Padang rasanya tak ada  apa-apanya deibandingkan penderitaan ribuan orang lainnya yang benar-benar kehilangan keluarganya. Keluarga besar kami di Lubuk Minturun Padang Alhamdulillah semuanya selamat. Saya baru bisa menghubungi mereka sekitar jam 12 siang, 1 oktober 2009, berkat XL yang dipakai ibu (provider lain benar-benar mati total). Beberapa rumah keluarga kami ada yang hancur separuhnya, bahkan ada yang hancur berat sampai tidak bisa lagi ditempati sehingga mereka mendirikan tenda di depan rumah. Namun posisi rumah-rumah keludarga yang semuanya berdekatan sangat memungkinkan seluruh keluarga besar untuk bahu membahu saling membantu. Seorang paman saya mengalami cedera di kaki karena kebetulan sedang menghadiri penataran di pusat kota Padang. Beliau baru bisa ditemukan jam 12 malam dan diangkut pulang dengan cedera di kaki.  Dua orang sepupu saya (SMP dan kuliah) sempat tidak diketahui kabar beritanya sampai tgl 1 oktober siang. Alhamdulillah mereka berdua selamat. Kami luar biasa cemas karena salah satu pusat bimbingan belajar yang runtuh adalah tempat bimbel yang biasa mereka hadiri. Sampai hari ini (5 oktober 2009), diyakini masih terdapat ratusan korban yang tertimbun di balik puluhan puing-puing bangunan di kota Padang dan di seluruh kota-kota yang terkena dampak gempa serta longsor yang menyertainya. Ribuan orang masih gelisah menunggu kepastian kabar sanak saudaranya. Banyak terdengar cerita-cerita yang menakjubkan mengenai orang-orang yang selamat dari gempa, namun tentunya jauh lebih banyak kisah-kisah yang memilukan. Diyakini juga bahwa korban yang berjatuhan (terutama yang tertimpa runtuhan gedung) banyak yang meninggal karena terlambat mendapat pertolongan. Contohnya anak-anak yang tertimbun di bawah reruntuhan gedung bimbel kabarnya di malam pertama gempa masih terdengar merintih-rintih, menangis, minta tolong, minta makanan dst dst. Namun warga sekitar tak mampu melakukan apa-apa karena tanpa alat berat tak ada hal yang mampu dilakukan. Akhirnya mereka satu persatu meninggal dunia karena proses evakuasi baru dapat dilakukan lama setelahnya. Demikian juga di gedung-gedung lainnya. Beberapa jam pertama masih banyak permintaan tolong bahkan korban-korban yang saling berkomunikasi di bawah reruntuhan. Namun lama-kelamaan satu persatu dari mereka tak dapat bertahan. Sedikit yang bertahan dan diselamatkan 2 hari kemudian, membagi kisahnya kepada media masa. Yang tak kalah menyedihkan adalah daerah-daerah terisolir ataupun daerah-daerah yang mendadak menjadi terisolir akibat gempa ini, sampai beberapa hari setelah kejadian tetap tak terjamah oleh bantuan medis maupun relawan. Namun di tengah-tengah suasana duka ini ternyata masih bergentayangan oknum-oknum dengan prilaku yang memuakkan. Di antaranya adalah maskapa-maskapai penerbangan yang dengan semena-mena mematok harga tiket sampai berlipat-lipat walaupun sudah ada himbauan dari pemerintah untuk tidak melakukan hal tsb (well, himbauan tanpa sanksi memang tak akan pernah mempan di negeri kita ini). Biadab, sungguh ! Tuhan, Duka, duka dan duka menggantung di langit dan menaungi wajah-wajah yang masih terpana dalam  kekagetan di sana, di ranah minang tercinta. Tangan inipun rasanya tak mampu mencoba memetakan tentang apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan tentang satu episode yang menggayut di sana, di ranah minang tercinta. Ngeri, jeri. Hilang kata. Tuhan…. Gunung gunung belumlah di hamburkan… Bintang bintang belumlah berjatuhan… Lautan belumlah sempurna meluap.. Matahari belumlah digulung… Langit belumlah terbelah… Bumi belumlah memuntahkan semua isinya… Belum… belum diguncangkan dengan sempurna Ketika seharusnya saat itu benar benar tiba… Belum.. belum apa apa… Dibanding hari yang Kau janjikan Tapi kami sudah menggigil begini hebat