Kematian dekat saja

Kami disambut oleh lelaki itu dan keluarganya dengan ceria, seolah hari itu adalah hari yang biasa saja sama seperti hari lainnya. Lelaki itu masih cukup muda, mungkin belum sampai 30 tahun usianya. Namun mendung di wajahnya tak bisa sempurna disembunyikan, pun raut-raut keletihan dan kelelahan yang terlihat jelas. Kami mengamati di daerah tengkuk terdapat bekas di’bekam’. Setelah sejenak berbincang-bincang dengan beliau dan keluarga, kami kemudian dikejutkan oleh seorang bocah usia 3 tahun yang dengan cerianya berlarian memasuki ruangan, dan berusaha mengeluarkan serta memainkan beberapa benda yang menarik hatinya. Lucu! menggemaskan :), khasnya anak kecil. Bocah itu telanjang dengan bekas air mandi  menetes dari seluruh tubuhnya. Sang bocah diikuti oleh neneknya yang sibuk mengejar-ngejar sambil membawa handuk kecil dan membujuk cucunya untuk mau memakai baju. “Ayo nak, pake baju duluuu, baru main mobil-mobilan yaaa…” dst dst Bocah kecil lucu itu berkelit! tidak mau, malah meronta-ronta ketika si nenek berhasil ‘menangkap’nya, oh.. oh si bocah mulai ‘tantrum’!. Abinya akhirnya turun serta membantu dan menggendong bocah kecil yang terlihat tersinggung berat. Bocah mungil itu pun mengeluarkan request baru supaya digendong keluar rumah (masih dalam keadaan belum pakai baju dan meronta-ronta). Khasnya anak kecil :), mengekspresikan diri dengan berbagai cara jika merasa ‘tersinggung’. Keluarga itu juga sibuk meminta maaf karena tidak bisa meladeni kedatangan kami. Kami berdua tentunya sangaaat maklum dengan keadaan ini. Karena kami juga punya putra dalam usia ‘berontak’nya, walau mungkin paling banter cuma diekspresikan lewat tangisan semenit kemudian asyik bermain lagi. Sungguh kami sangat sangat paham. Kembali ke bocah lelaki usia 3 tahun tadi dengan Abinya yang masih berjuang keras menjelaskan bahwa sebaiknya memakai baju dulu sebelum keluar rumah, bahwa hari sudah menjelang sore, sebaiknya di rumah saja dst dst. Namun sang bocah tetap ngotot ingin melihat matahari senja. Sang nenek kemudian menjelaskan kepada kami bahwa kalau sudah begitu biasanya cuma bisa dibujuk oleh Abi atau Umminya. Abinya telah membujuk dengan berbagai cara. Tapi umminya…. Wahai ummi, kemana engkau ummi sayang? Bocah kecil itu… Terlalu dini untuk paham arti dari kematian. Yang dia pahami saat ini hanyalah keinginannya untuk digendong keluar rumah (bahkan dalam keadaan basah dan belum pakai baju) dan ditemani melihat matahari senja…  Bocah kecil itu… Belum sadar bahwa ummi nya tercinta baru saja dimakamkan malam sebelumnya. Bocah kecil itu… Belum sadar bahwa ummi tercinta tidak akan pernah lagi datang padanya, menggendongnya, menciumnya, memeluknya, mendendangkan syair hiburan untuknya,membacakan murotal untuknya, memakaikan bajunya, menggendongnya, memujinya, menghiburnya, bercanda tergelak-gelak bersamanya, dan segudang aktivitas indah lainnya Bocah kecil itu… Belum sadar bahwa tak akan ada lagi senyum sayang ummi, canda tawa ummi, bujukan ummi, tatapan ummi yang penuh khawatir, rindu, cinta. Ah Ummi, engkau di mana ummi… Anakmu masih begitu kecil… Sebentar lagi rentetan rindunya akan mulai mencari-cari kehadiranmu Sebentar lagi dia akan kebingungan mengapa kau tak kunjung datang Sebentar lagi dia akan mencari-cari sosokmu ke seluruh sudut rumah Saya berusaha keras menahan sesak di dada. Bagaimana mungkin saya yang menangis di hadapan mereka sementara keluarga ini terlihat begitu tabah. Mengapa saya yang harus menyulut luka yang sedang berusaha keras mereka padamkan. Trenyuh.. sangat trenyuh. Namun cukuplah di dalam hati saja.. Lihatlah kedua kakek nenek itu! yang begitu tabah menceritakan kepada kami perihal sakit mendadak yang diderita putrinya, yang membuatnya begitu cepat kembali padaNya dalam usia yang masih sangat muda, meninggalkan keluarga, suami dan anak-anaknya. Meninggalkan anak yang masih sangat kecil… Lihatlah bocah kecil itu. Masih begitu panjang masa depannya dan tentunya masih sangat butuh perhatian dan kasih sayang seorang ibu dalam hidupnya. Dekapanmu ummi, sungguh masih sangat dibutuhkannya. Kemana dicari penggantinya, yang akan memahami setiap relung hatinya. Cuma engkau, wahai ummi… Wahai sang ummi, semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisiNya. Dan semoga keluarga yang engkau tinggalkan selalu dilimpahi ketabahan dan kekuatan. Senja beranjak, kamipun harus pamit mundur diri. Potret keluarga itu masih terpeta jelas di ruang mata saya. Terutama bocah kecil itu. Naluri kelibuan saya terusik sangat. Wahai anak, semoga ketiadaan ummi-mu tetap mampu menempamu tumbuh menjadi pribadi yang hebat! Wahai anak, semoga engkau menjadi anak yang sholeh yang selalu melimpahi ummi-mu di alam sana dengan do’a-do’a mu. Tentunya nanti sayang, ketika kau sudah paham arti dari perpisahan ini.. Tiba-tiba saya menjadi begitu rindu dengan putra kecil saya di rumah. Ingin lekas memeluk, menggendong dan mendendangkannya syair-syair indah. Kematian, sungguh dekat saja. Semoga kita selalu teringat untuk selalu bersiap menghadapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>