Cukup satu kali contreng!

Saat ini situasi politik Indonesia Raya yang sedang memanaaaazzzzz : – TV dipenuhi oleh iklan-iklan partai politik yang penuh janji-janji surga. Yaaah gpp sieh, namanya juga kampanye. Boleh lah kita lihat kepiawaian partai-partai ini dalam ‘mencari hati’ masyarakat. Namun sekarang mulai ada trend ‘menjelekkan-yang-lain-namun-tidak-menyodorkan-solusi-yang-cerdas’.  –  Kota Jakartah (mungkin seluruh kota di Indonesia) pinuuuuuh dengan tongkrongan poster-poster caleg partai ini dan itu. Pusing liatnya dan terus terang merusak pemandangan. Lihat di sini (http://janganbikinmalu2009.com/web/galeri.php). Model posternya bener-bener muaceem muaceeeem, dari yang bagus (jarang sih), menggelikan, bikin sesek napas, bisa bikin ketawa terpingkal-pingkal (ketawa miris) sampai yang membuat kita mengelus dada saking prihatinnyo. Ondeh.. ondeh… . Baiklah, baiklah, ini memang bagian dari proses Demokrasi. Namun kadang terpikir, sayang juga yah uangnya…hiks hiks – Saluran-saluran TV  (kecuali saluran-saluran TV yang mengkhusukan diri untuk muter sinetron dari pagi ampe pagi lagi, isi sinetronnya mulai dari hantu ini, hantu itu, cinta anu, cinta itu – Ga mendidik!!) berlomba-lomba menayangkan acara-acara mulai dari ulasan pemilu (bagus sih,nambah wawasan), sampai debat partai yang kadang-kadang (sering, tepatnya) bukan bertujuan mencari sebuah pemikiran konkrit yang inovatif (naon…ieu) namun cuma cakar-cakaran, saling jelek-jelekin sampai saling membeberkan aib. Nauzubilah. Baiklah.. baiklah, mungkin memang ini bagian dari demokrasi, tapi kok mahal banget ya implikasinya secara moral. Apalagi kalau menyaksikan sesama partai islam saling ‘adu-jotos’ di acara debat yang ditonton oleh jutaan pemirsa, saling menjatuhkan metoda masing-masing, saling serang, saling ini itu blablabla. Sediiiiiiiiiiiiiih buanget. Tak rela rasanya mereka-mereka yang berdebat di sana itu jadi representatif umat islam. teganyateganyateganyateganya…. Miriiiiiiizz… – Pun acara ‘uji caleg’ di TV-TV yang menampilkan caleg-caleg yang bener-bener muaceeem muaceeem. Profesinya macem-macem, mulai dari akademisi, artis, pelawak, dukun (ini beneran!), tukang sate (kakek awak bisa ikutan juga doooonk!), tukang jus dst dst. Tapi yang paling penting isi kepala alias pemikirannya. Mulai dari yang cerdas (te o pe daaah), yang ga pernah nyambung antara pertanyaan panelis dan jawabannya, yang ngotot, yang kasar, yang setiap paragraf ucapannya pasti bawa-bawa ayat al-Quran walau ga ada hubungannya dengan pertanyaan panelis, yang cengengesan serasa di kafe gaoool, yang curhat, yang gelagapan, yang gemeteran ampe ga bisa bicara dst dst. – Pun ketika stasiun-stasiun TV itu kembali menayangkan acara ‘wawancara eksklusif’ dengan caleg-caleg tersebut. Yang diundang pun cem macem, mulai dari artis-artis, PKL, dst dst. Kembali rata-rata dari mereka membuka aibnya sendiri. Yang cengengesan teteeuup aja cengengesan (duh, aku ampe antipati ama partai yang nyalonin wanitah satu ini), yang kurang wawasan teteeeup aja kurang (sampe istilah-istilah umum di pemerintahan jug ga tahu, dan ga ingin mencari tahu). Ketika ditanya alasan jadi caleg juga cem macem. Mulai dari alasan-alasan yang kalau ditulis ulang serasa ‘part-of-pelajaran-PMP-PPKN-atau-kewiraan’, teoriiiiiiiiiii semua, sampe yang dengan malu-malu bilang gini “Abisnya, saya liat anggota dewan itu kaya-kaya sih ya, saya kan juga pingin kaya”. Ondeh..ondeh?? inikah dia calon pemimpin awak di dewan yang terhormat kelak? atau representasi rakyat? Sungguh tak rela tak rela ku tak rela. Masih banyaaak sebenernya ganjelan-ganjelan di hati inih. Nantilah di edit dan ditambah-tambah lagi seiring berlalunya waktu. Yang jelas, nanti tanggal 9 april, jangan lupa contreng. Contreng lah caleg yang berkualitas. Cukup 1 kali contreng! Walaupun hanya satu suara, pasti ada artinya.  Pesimis? sering… Tak rela rasanya suara ini hangus, walaupun cuma secuil… memberikan kontribusi untuk Indonesia yang lebih baik…

ujian itu

Saat ini sangat merisaukan hati… Berusaha memandangnya secara positif, ujian ini… Terasa cukup berat, Risau sungguh, walau bersama-sama menghadapinya… Ujian yang membuat kami merasa malu, betapa segala hal-hal yang selama ini dianggap ‘masalah’, ternyata tak ada apa-apa nya.. Dibandingkan ini… Ujian yang semoga membuat kami makin matang dan terus bersyukur Risau sungguh, walau bersama-sama menghadapinya… Wahai cahaya mata nun jauh di sana, maafkanlah Ayah Bunda… kami sayang padamu… kami sayang padamu… Sungguh ! Wahai Engkau Sang Penggenggam seluruh jiwa.. Semoga kami ikhlas dengan segala ketentuanMu.. Tak ada yang dapat kami lakukan selain menengadah mengharap belas kasihMu Bukankah tak ada yang mampu menolak takdir selain Do’a…