[Cluster 16] Sepotong malu

Huff, daku menikmati pelan rembesan air hujan yang membasahi kaos kaki. Dingin euy!! Tapi nampaknya jika hujan saja sudah menimbulkan keluh kesah maka bisa lupa diri atas nikmat-nikmat yang luar biasa melimpah. Terminal Kampung Rambutan penuh sesak oleh manusia-manusia yang mencari celah-celah perlindungan diri dari terpaan angin dan hujan. Kubiarkan saja ia menggamit lenganku lalu kita berbagi berlindung di bawah sepotong payung sederhana. Tiba-tiba begitu banyak hal tersaji di depan mata. Mungkin inilah sebagian dari realita. Jika sesekali mata ini memerih ngilu bukan meratapi pergantian-pergantian parameter kenyamanan itu. Karena sampai saat ini masih yakin diri bahwa nikmat yang dilimpahkan Allah atas diri ini sungguh luar biasa. Jika sesekali mata ini memerih ngilu semata karena ketidakmampuan menyaksikan pergolakan begitu banyak manusia dalam pertarungan dengan waktu untuk tetap bertahan hidup dari hari ke hari. Padang-ku tak semewah Singapura. Namun tak kujumpai di sana drama kehidupan seperih Jakarta. Sungguh kota ini telah dan sedang mengajariku banyak hal… Malu!! Karena masih sering mengeluh atas segala cobaan-cobaan kecil bahkan terhadap hal-hal biasa yang dibesar-besarkan dan dianggap cobaan! Malu!! Karena mata ini begitu tertutup dan tidak mampu mengetahui bahwa ternyata standard kehidupan selama ini sudah begitu luar biasa ketimbang jutaan manusia lainnya yang tersendat-sendat untuk sekadar bisa makan Malu!! Atas segala keluhan, keluhan dan keluhan. Mengeluh karena begitu banyak tugas kuliah (banyak yang sekolah menengah aja ga bisa neng!), mengeluh karena makanan yang dimakan ga enak (banyak yang ga bisa makan neng!), mengeluh karena dizalimi kawan (Jika temanmu salah jangan tinggalkan ia, bisa jadi saat itu dia buruk namun di saat lain ia baik, begitu kata Abu Darda) padahal mungkin sekali sangat sering menzalimi juga, memanglah insan mudah mengingat yang buruk namun suka lupa atas kebaikan orang lain. Mengeluh karena kegemukan (salah siapa coba…!), mengeluh karena nilai kurang bagus dst dst. Malu!!! Karena ternyata bertahun-tahun silam duniaku cuma berputar-putar kuliah, asrama, makan, tidur, dan ibadah yang sedikit. Sibuk memikirkan diri sendiri dengan bergunung keluhan. Padahal seharusnya kita senantiasa menjadi pribadi yang produktif, produktif dan produktif untuk diri dan orang lain. Bukan mengeluh, mengeluh dan mengeluh lalu lupa atas segala nikmat. Ada yang mendapat hidayah dengan membaca Ada yang mendapat hidayah dengan mendengar Ada yang mendapat hidayah ketika bercermin dari musibah orang lain Dan ada yang mendapat hidayah setelah ujian menerpanya Semoga kita bukan termasuk yang terakhir Begitu banyak metoda pembelajaran jiwa Begitu banyak cara untuk menjadi dewasa Begitu banyak cara melecut jiwa agar selalu bersyukur Semoga langkah tetap selaras dengan niat… Semoga perbuatan tetap seiring dengan hati dan perkataan… Sungguh kota ini telah dan sedang mengajariku banyak hal… dan semoga makin kuat hati untuk terus belajar..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>