Ajakan Bakti Sosial di Panti Jompo

Panti Jompo, mungkin salah satu tempat yang seringkali terlupakan. Sebab kegiatan Baksos biasanya diarahkan kepada Panti Asuhan atau tempat-tempat lainnya.  Pada kesempatan ini, saya dan rekan-rekan kerja mengundang Bapak, Ibu dan rekan sekalian untuk sejenak berbagi dengan orang  tua yang mungkin sering kali terlupakan, kesepian, sedih dan terpinggirkan dari ingatan kita.  Mari luangkan waktu sejenak untuk menghadirkan senyum di wajah mereka, di hati mereka. Rencana kunjungan :

Jum’at / 19 September 2008

17.00 WIB s.d. selesai PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI MULIA 4 MARGAGUNA, Jl. Margaguna No. 1, Radio Dalam Kel. Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan 021. 750 3249 Acara    : Bakti sosial dan buka puasa bersama pengurus dan penghuni panti.

 Sekilas mengenai panti tersebut dapat dilihat di sini dan di sini

  • Informasi lebih lanjut dan bantuan berupa uang tunai dapat diserahkan secara langsung kepada kami [untuk rekan kerja di kantor]
  • Bantuan berupa uang dapat juga di-transfer melalui rekening Bank Mandiri No. 127 000 416 451 1 atau BCA No. 54 15 10 78 60 (atas nama Danan Jaya W.) Mohon kirimkan bukti transfer Bapak / Ibu sebagai bukti. Bukti transfer dapat dikirimkan melalui fax [021-3864935] atau email ke unisa81@gmail.com atau dananjaya.wicaksono@gmail.com
  •  Bantuan berupa barang dapat pula disampaikan, dengan berkoordinasi terlebih dahulu dengan panitia.
  • Bagi Bapak / Ibu yang berminat untuk HADIR PADA ACARA PENYERAHAN BANTUAN, dapat berkoordinasi dengan panitia via  unisa81@gmail.com atau dananjaya.wicaksono@gmail.com
  • Bantuan dan konfirmasi kehadiran sebaiknya dapat diterima oleh panitia pada hari Kamis, 18 September 2008. 

Rgds, Panitia Bakti Sosial 2008. Ulurkan tangan, saling peduli   UPDATE Kami sudah melakukan kunjungan, tapi tidak jadi ke Panti tersebut karena ada kesalahan koordinasi kami dan panitia [H-1 ketika menghubungi panti, pihak panti mengatakan bahwa di slot waktu tsb akan diisi oleh pihak lain]..Akhirnya, acara Bakti Sosial (Baksos) yang diselenggarakan pada Jumat, 19 September 2008 di Sasana Tresna Werdha Budi Mulia JelambarPhoto2 dapat dilihat di http://unisa99.multiply.com/photos/album/34/Serunya_Baksos Alhamdulillah berjalan lancar

[Cluster 17] Memilih Tepian

Lalu berceritalah ia. Cerita yang membuat sedih dan hati teriris-iris. Mengapa dakwah sampai melukai?, tak bisakah disampaikan dengan cara yang lebih ahsan. Uff cinta, ya orang memaknainya dengan cara yang berbeda beda. Mengerutkan kening di sini, termenung, terdiam dan kadang tertawa bersama demi menghiburnya entah menertawakan apa Lalu disanalah ia, tercabik di tengah-tengah gelora semangatnya. Untuk suatu muatan yang seharusnya tidak sekasar itu penyampaiannya. Duh cinta,banyak hati yang terbuat dari gelas-gelas kaca, tak semuanya sekeras baja. Cukup geram dan gemas kali ini, walau nampak bijak di depannya ketika merangkai kata menuai makna untuk menyejukkan sepotong jiwa. Yang sebenarnya adalah tangan tergetar hati memanas mengikuti untaian-untaian kalimat yang dia kirimkan. Dari si penasehat, yaa si penasehat. Huff, Rasulullah pun rasanya tak pernah seperti ini terhadap saudaranya. Lalu menangislah ia. Ya akhirnya menangis juga. Puncak pertahanan terakhir dari seorang wanita. Tak mengapa tak mengapa. Menangis dan sedih fitrah semata. Menangislah saat ini, namun berjanjilah untuk kembali melangkah tegap esok hari, hiburku pura-pura dewasa :D, sambil tetap tergetar membaca baris-baris tausiyah dengan retorika-retorika tajam berserakan dan capslock dimana-mana seolah si penulis sedang berteriak teriak dari seberang sana. Dia mengakhiri suratnya atas nama cinta katanya. Uh cinta lagi cinta lagi. Kasihan deh si cinta dimaknai begitu duka. Padahal si cinta tuh juga butuh akhlak yang indah agar selalunya ia mampu menghadirkan musim semi. Ya gak cin??. Maka disinilah aku, di kantor ini kehilangan selera meneruskan pekerjaan. Kata-kata bijak mengalir menghibur dari sini walau tak terlalu sejalan dengan hati dan fikiran penulisnya. Masih disinilah aku, *duduk sendiri memandang monas dan duduk sendiri dipandang monas*  termangu-mangu menatap layar. Terpetakan jelas satu episode di masa silam. Ah ya, saat kita begitu berdebu dan banyak salah apa memang selayaknya untuk dihujat apalagi ditinggalkan?. Kasihan deh si ukhuwah, dimaknai begitu sempit. “Berdirilah terus di tengah-tengah seperti keyakinanmu saat ini, namun yakinlah suatu saat kita musti memilih tepian mana, karena semakin jauh berjalan semakin deras arus”, memoriku terseret pada petuah seseorang di dalam kabut. Dan inilah salah satu arus itu. Tak terpungkiri, tak terbantahkan. Berat memang kalau sudah dihubung-hubungkan ke sana. Kenyamanan adalah hal yang tidak ternilai harganya. Namun kurasa posisi nyaman yang terasakan saat ini musti dipertimbangkan lagi suatu saat kelak. Tidak musti memilih tepian, hanya sekedar paham batuan mana yang sedang dipijak. Yang kupahami, kenyamanan itu tidak bisa dipaksakan. adalah benar.. saat ini engkau terluka, patah dan berdarah tapi kadang kita perlu luka ‘tuk dewasakan jiwa sedangkan karang di dasar lautan.. tak terusik dilanda badai.. engkau pun tak akan patah.. karena kau tak ingin patah.. engkau pun tak akan kalah.. karena kau tak ingin menyerah.. Mari kita dengarkan nasihat Ibnul Qayyim : Di dalam hati ada duka cita dan tidak akan sirna kecuali bersuka cita dengan ma’rifatullah dan tulus bergaul denganNya..

[Cluster 16] Sepotong malu

Huff, daku menikmati pelan rembesan air hujan yang membasahi kaos kaki. Dingin euy!! Tapi nampaknya jika hujan saja sudah menimbulkan keluh kesah maka bisa lupa diri atas nikmat-nikmat yang luar biasa melimpah. Terminal Kampung Rambutan penuh sesak oleh manusia-manusia yang mencari celah-celah perlindungan diri dari terpaan angin dan hujan. Kubiarkan saja ia menggamit lenganku lalu kita berbagi berlindung di bawah sepotong payung sederhana. Tiba-tiba begitu banyak hal tersaji di depan mata. Mungkin inilah sebagian dari realita. Jika sesekali mata ini memerih ngilu bukan meratapi pergantian-pergantian parameter kenyamanan itu. Karena sampai saat ini masih yakin diri bahwa nikmat yang dilimpahkan Allah atas diri ini sungguh luar biasa. Jika sesekali mata ini memerih ngilu semata karena ketidakmampuan menyaksikan pergolakan begitu banyak manusia dalam pertarungan dengan waktu untuk tetap bertahan hidup dari hari ke hari. Padang-ku tak semewah Singapura. Namun tak kujumpai di sana drama kehidupan seperih Jakarta. Sungguh kota ini telah dan sedang mengajariku banyak hal… Malu!! Karena masih sering mengeluh atas segala cobaan-cobaan kecil bahkan terhadap hal-hal biasa yang dibesar-besarkan dan dianggap cobaan! Malu!! Karena mata ini begitu tertutup dan tidak mampu mengetahui bahwa ternyata standard kehidupan selama ini sudah begitu luar biasa ketimbang jutaan manusia lainnya yang tersendat-sendat untuk sekadar bisa makan Malu!! Atas segala keluhan, keluhan dan keluhan. Mengeluh karena begitu banyak tugas kuliah (banyak yang sekolah menengah aja ga bisa neng!), mengeluh karena makanan yang dimakan ga enak (banyak yang ga bisa makan neng!), mengeluh karena dizalimi kawan (Jika temanmu salah jangan tinggalkan ia, bisa jadi saat itu dia buruk namun di saat lain ia baik, begitu kata Abu Darda) padahal mungkin sekali sangat sering menzalimi juga, memanglah insan mudah mengingat yang buruk namun suka lupa atas kebaikan orang lain. Mengeluh karena kegemukan (salah siapa coba…!), mengeluh karena nilai kurang bagus dst dst. Malu!!! Karena ternyata bertahun-tahun silam duniaku cuma berputar-putar kuliah, asrama, makan, tidur, dan ibadah yang sedikit. Sibuk memikirkan diri sendiri dengan bergunung keluhan. Padahal seharusnya kita senantiasa menjadi pribadi yang produktif, produktif dan produktif untuk diri dan orang lain. Bukan mengeluh, mengeluh dan mengeluh lalu lupa atas segala nikmat. Ada yang mendapat hidayah dengan membaca Ada yang mendapat hidayah dengan mendengar Ada yang mendapat hidayah ketika bercermin dari musibah orang lain Dan ada yang mendapat hidayah setelah ujian menerpanya Semoga kita bukan termasuk yang terakhir Begitu banyak metoda pembelajaran jiwa Begitu banyak cara untuk menjadi dewasa Begitu banyak cara melecut jiwa agar selalu bersyukur Semoga langkah tetap selaras dengan niat… Semoga perbuatan tetap seiring dengan hati dan perkataan… Sungguh kota ini telah dan sedang mengajariku banyak hal… dan semoga makin kuat hati untuk terus belajar..