a call from temasek

Teringat kisah perang Badar, ketika Rasulullah tidak gentar sedikitpun menghadapi musuh, karena beliau yakin, para sahabat dan calon-calon syuhada itu punya keimanan yang tebal di dalam hatinya. Aku mengutip dari salah satu halaman di Sirah Nabawiyah versi Syaikh Mubarakfury , bahwa *orang yg memiliki iman kuat dan keyakinan mantap, melihat kesulitan dunia seperti apapun banyak dan beratnya, tak ubahnya riak-riak buih diatas aliran sedikit air,yg akan menjebol bangunan yg sangat kuat* Malam menjelang dan nafas pun melega. Ternyata aku perlu taujih untuk menerima bahwa memang pada suatu kita tak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah sistem yang terlanjur berurat berakar. Mungkin baru kali ini aku menangis dalam sujud malamku untuk hal ini, menyadari bahwa betapa semangat yang berkobar-kobar yang aku bawa ketika hijrah ke tanah air, terpadamkan oleh sistem yang mungkin sudah menemukan bentuknya dan tidak bisa dicampur tangani. Aku menangis, minta ampun kepada Allah, bahwa sekuat-kuatnya tak ingin aku menyesali keputusan untuk pindah ke tanah air sendiri. Jangan lama-lama ya, di Singapura, suatu saat kamu musti balik juga seperti aku. Setidaknya ada hal-hal yang bisa kita diskusikan. Demikian kataku di akhir percakapan kami. Lalu di penghujung malam, datanglah sms nya yang luar biasa, menjadi penyejuk bagi kesedihan dan bentuk pompaan semangat yang baru.

uni, kita sama-sama tahu bahwa kita ingin benar-benar ikhlas dalam menerima takdir dan ketetapan Allah buat kita.  Kita sama-sama tahu bahwa belum sempurna iman seorang hamba sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang Nabi Muhammad bawa. Karenanya aku berdoa untuk kita dan saudara-saudara kita, semoga Allah, Rabb yang Maha Kuasa senantiasa menjaga dan memantapkan hati kita bahwa hanya karena mengharap ridhoNya segala keputusan kita tetapkan dan kita jalani. Uhibbuki fillah…

kangen…

Merasa gagal menjadi ibu

Akhirnya tak tahan juga menuliskan ini…  Maafkan bunda, Nak Awalnya, Ketika bunda harus ninggalin Hafidz di usia 2.5 bulan untuk sebuah perjalanan dinas (yang PASTI tetap bisa jalan terus tanpa bunda). Sebuah tugas yang dikondisikan untuk tidak ditolak. ….

perasaan gagal itupun bermula.. 

Lemah memang diri bunda ini, Nak. Kembali ke cerita lama, bukankah memang  ‘bekerja’ bagi bunda adalah sebuah keniscayaan? Dari sisi finansial terutama. Bukan untuk kita saja Nak, tapi juga bagi banyak pihak nun jauh di sana. Pembenaran kah ini, Nak? Lalu jika saat ini timbul konsekuensi seperti ini bukankah bunda mestinya siap? matang batin. Siap diri. Siap hati. Ikhlas? Kemudian, Tak lama sepulang dari perjalanan dinas yang panjang dan melelahkan batin engkau ternyata sakit. Duhai Nak, berpisah sekian jam per hari saja denganmu  rasanya gelombang rindu berubah menjadi tsunami yang membadai di dalam hati bunda, bisakah bayangkan berpisah denganmu 11 hari? kiamat di hati Bunda mungkin Nak. Hari-hari terasa begitu panjang. Kadang rasanya seperti mayat hidup yang berusaha tertawa dan mengerjakan ini itu sementara hati Bunda tertinggal bersamamu.

Perasaan gagal itu mulai semakin menyiksa…

Anak sempat tidak mengenali bunda. Tidak akrab lagi. 11 hari bagimu sudah cukup untuk membuat bunda berganti abah. Dulu dekapanku mungkin tempat ternyaman bagimu… Dulu, mungkin hanya bau badanku yang membuat lelap matamu… Dulu, ASI adalah satu-satunya… Dulu, kita adalah 2 teman akrab… Setiap terbangun malammu adalah saat-saat yang begitu bundo tunggu Nak, untuk dapat meraihmu, memandang lelapmu dan memberimu makanan terbaik… Setelah engkau sembuh pun kita menjadi berjarak ya Sayang… Bagimu sekarang Abah adalah segala-galanya. Bahkan perlahan kau  pun mulai berpaling dari ASI bundo. Lambat laun sang ASI pun berkurang karena sadar kau pun tak lagi terlalu menyukainya Nak… Sempat…  bunda masih bisa mengecohmu dengan tetap menyusuimu di lelap-lelap tidurmu. Dan engkau mau… !!! Bahagia sekali rasanya..

Perasaan gagal itu sedikit terobati…

Namun kemudian seiring bertambah usiamu, bertambah juga kepekaanmu, engkau tak mau lagi menyusu dalam keadaan terkecoh seperti itu. Dan mulailah penolakan-penolakan itu.

Penolakan yang memerihkan hati Bunda Nak… 

Bagimu bunda yang sekarang hanya tempat bermain, bermanja, tertawa, menangis, gembira, tapi bukan lagi tempat untuk menyusu… Padahal, tahukah kau Nak, itulah makanan terbaik bagi tumbuh kembangmu. Tak ada yang lebih baik. Bunda sedih sayang… Bunda merasa gagal… gagal sekali… padahal usiamu belumlah 5 bulan, namun bunda tak lagi berguna sebagai penyedia makanan terbaik bagi pertumbuhanmu…

Bunda tersudut di pojokan, terpuruk, menyesali, menangisi..

Apa yang bisa bunda lakukan untuk menebus ini Sayang… Hilang sudah kesempatan memberi Hafidz makanan terbaik sampai usia 2 tahun.. Apa yang bisa bunda lakukan agar Hafidz kembali ingat kebersamaan kita saat momen-momen menyusui begitu luar biasa? Apa yang bisa bunda lakukan Nak… setiabudi akhir juli 2008, saat rasanya begitu gagal menjadi ibu. Thx for Aa atas dukungan2 moral..

[Keluarga] Rumah dan Kendaraan

Akhir-akhir ini Bundo and Abah mulai serius mikirin 2 masalah ini: 1.       Masalah kendaran Kita ga punya kendaraan apapun, baik itu sepeda, sepeda motor apalagi mobil. Dulu sebelum nikah, Abah memang punya sepeda motor. Tapi karena bundo paranoid dengan sepeda motor dan suka cemas sendiri memikirkan kondisi jalan raya dan dunia persilatan motor di Jakarta ini (Suka deg deg an euy, jadi ga tenang), maka bundo minta agar abah gak bergaul lagi dengan sepeda motor, daripada bundo kepikiran terus. Alhasil kita berdua kemana-mana naik kendaraan umum dan suka ‘terpaksa’ naik taksi. Nah, kondisi terpaksa nya ini yang tanpa disadari lama-lama jadi pembenaran tersendiri. Ditambah dengan kondisi angkot yang jarang banget dari kontrakan kita di Setiabudi ke Sudirman, kita juga jadi sering naik Ojek. Tahu kan, ojek suka lebih mahal dari taksi. Bundo sebenernya ga keberatan jalan kaki untuk jarak yang ga begitu jauh (karena selama kuliah juga terbiasa jalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh sebab tinggal di kompleks kampus yang luas). Namun kondisi di karet belakang memang tidak mengkondisikan kita untuk berjalan kaki dengan nyaman. Trotoar mulai dari pasar mencos nyaris sampai ke kolong karet dipakai untuk berjualan. Kalau mau jalan kaki ya arada di tengah jalan. Dag dig dug deh Masalah lainnya timbul ketika beberapa kali kita Continue reading [Keluarga] Rumah dan Kendaraan

Ibu eksklusif

Photos hafidz terbaru :http://unisa99.multiply.com/photos/album/23/Hafidz_50_hari

Selama ini aku tidak pernah menduga bahwa menyusui bayi ternyata adalah salah satu saat yang paling indah dan menakjubkan. Memangkunya, memandangnya, menatap setiap detik ekspresi wajahnya, memegang tangannya, mencium baunya, membalas tatapan matanya, mencoba berbicara padanya dengan sayang yang sepenuh-penuhnya.  Tanpa disadari, aku kemudian begitu menanti-nantikan waktu-waktu menyusui. Pagi hari,siang hari, tengah malam,semuanya. Bahkan tidur satu atau dua jam pun rasanya sudah cukup untuk membuat tubuh segar kembali asalkan setiap bangun bisa kembali memandang wajahnya dan menunggu saat-saat hausnya.  Hari ini tanggal 14 mei, berarti umurnya tepat 2 bulan. Itu artinya 2 bulan penuh aku memberinya ’asi eksklusif’ sekaligus menjadi ’ibu eksklusif’ bagi Hafidz. Dua puluh empat jam penuh setiap harinya selalu bersama dia. Nonstop. Full time! Indaaaaah sekali. Aku menikmati setiap detiknya. Tidak hanya saat menyusui. Saat memandikan, menemaninya mengembangkan ekspresi ocehan-ocehannya, menggendongnya, memeluknya bahkan sekedar memandang ekspresi tidurnya. Cepat besar ya Hafidz bundo sayang…  Hari ini tanggal 14 mei, berarti umurnya tepat 2 bulan. Itu juga berarti hari ini aku harus kembali ke kantor. Karena memang jatah cuti Cuma sampai bayi berumur 2 bulan. Bagaimana perasaanku? Sungguh tak terkatakan. Tiba-tiba rasanya menjadi begitu sedih, cengeng dan melankolis. Padahal berpisah dengan hafidz paling Cuma 10-11 jam sehari. Itu artinya masih tersisa 13 jam perharinya bersama dia. Bahkan sabtu dan minggu aku kembali bisa menjadi ’ibu eksklusif’. Tapi rasanya sunggguh begitu sedih. Tiba-tiba aku tidak ingin bekerja dulu. Bagaimana kalau cutinya diperpanjang saja 6 bulan, atau kalau perlu setahun. Duh egoisnya. Apalagi seminggu ini tidak bisa menyusui Hafidz karena PD kiri dan kanan luka-luka bahkan sampai berdarah. Dicurigai karena akhir-akhir ini teknik menyusuiku salah,karena seharusnya payudara tidak sampai luka. Seminggu tidak bisa menyusui dan nyaris tidak bisa memeras ASI. Hasilnya, persediaan ASIP di kulkas nyaris menipis. Paling sekarang tahan untuk 2-3 hari. Karena itu juga bertekd kuat agar bisa memeras ASI di kantor sesering mungkin. Semoga, ya semoga. Masih belum rela rasanya memberi Hafidz makanan lain selain ASI.  Selama ini aku tidak pernah menduga bahwa menyusui bayi ternyata adalah salah satu saat yang paling indah dan menakjubkan.Begitu bahagia bisa memberinya ASI eksklusif, dan ingin rasanya berkhayal tak hanya memberinya ASI eksklusif namun juga menjadi ’ibu eksklusif’ berbulan-bulan lagi.  Bundo sayang padamu, Hafidz. Baik-baik di rumah ya Nak J Kita jumpa lagi jam 6 sore…

Cerita Lahir Hafidz

Photos Hafidz: http://unisa99.multiply.com/photos/album/22/Selamat_Datang_Belahan_Jiwa Jatuh Cinta Allah mengkaruniakan rasa cinta yang bertambah-tambah setiap saat kepada pasangan yang sudah menikah. Bertemu dengan suami rasanya seperti bertemu sahabat lama. Dibalik begitu banyak perbedaan 2 insan ternyata ditakdirkannya pula begitu banyak persamaan yang menyebabkan kita rasanya seperti 2 sahabat yang dipisahkan begitu lama dan dipertemukan kembali setelah ijab kabul. Begitu berbeda namun begitu serasi. Indah sekali. Begitu mungkin perumpamaan rasa cinta kepada pasangan kita. Namun cinta kepada anak ternyata dianugerahkan Allah dengan jenis cinta yang berbeda. Entah bagaimana cara mengungkapkannya. Apa yang dirasakan ketika ditakdirkan berjumpa dengan seseorang yang telah berbagi denyut jantung dengan kita sejak lama. Bertemu dengan seseorang yang selama ini begitu dekat (satu tubuh dengan kita), namun rasanya begitu jauh karena tak bisa menyentuhnya, memandangnya, membelainya, menciumnya. Perasaan jauh yang menebalkan rindu berlapis-lapis. Rindu yang hanya bisa diterjemahkan oleh air mata bahagia dan luapan cinta yang membuncah-buncah saat kita diijinkan pertama kali menyentuhnya, membelainya, menciumnya dan memandangnya tak lepas-lepas… Selamat datang Hafidzku… semoga jadi anak yang sholeh. Mencintai Quran. Kenapa engkau kami beri nama Hafidz nak? karena Abah dan Bunda begitu mengagumi para Hafidz quran dan orang-orang yang senantiasa menambah dan menjaga hafalan Qurannya. Karena Abah dan Bunda paham betapa beratnya menjaga ketaatan lewat hafalan-hafalan yang terjaga di dalam hati karena harus senantiasa menselaraskannya juga dengan bening jiwa, kehalusan budi dan tingkah laku. Hal yang sangat berat, Hafidzku. Karena Abah dan Bunda begitu malu mengingat betapa sedikitnya Ayat-ayat CintaNya yang mampu kami simpan di dalam hati. Karena Abah dan Bunda begitu ingin hadirmu menjadi motivasi sekaligus bahan introspeksi dan renungan bagi kami.. Selamat datang hafidzku… semoga selalu menjadi Raditya, matahari Abah dan Bunda… Cerita lahir Hafidz, Pendarahan Saat usia kehamilan menginjak 39 minggu lebih 2 hari, sehabis ashar ada sedikit pendarahan. Semasa sms-an konsultasi ama Bunda Majid dan beberapa teman, katanya ciri-ciri mau melahirkan diantaranya selain kontraksi, pecah ketuban dan juga sedikit pendarahan (istilahnya bloody something gitu deh). Kebetulan juga hari itu dari pagi sampai ashar perutnya udah ga enak banget, mlintir-mlintir ga keruan tak henti-henti. Jaraknya juga udah setiap 10 menit sekali. Cuma aku ga gitu yakin apakah itu yang disebut kontraksi. Kirain yang namanya kontraksi itu selalu disertai dengan perasaan ingin ‘ke belakang’.Ternyata not necessary. Aku ama ibu buru-buru ke RSIA Tambak. Awalnya mau ditunda sampe besok sorenya, karena memang besoknya itu (jumat) adalah jadwal konsultasi dengan Dr.Ony Khonsa. Tapi karena udah keburu keluar darah bru-buru deh ke RS. Nyampe di Tambak, susternya langsung cek ini itu dan periksa pembukaannya, coz Dr Ony masih on the way. Yang namanya meriksa pembukaan itu bener-bener bikin meringis. Antara sakit, malu dan ga enak. Ternyata baru bukaan 1. Tapi setelah dr.Ony datang aku udah ga dibolehin pulang, karena mules-mulesnya makin mencurigakan (udah 2-3 kali dalam 10 menit). Semakin malam mulesnya makin sakit, namun ternyata bukaannya tetep ga maju-maju. Tengah malam makin menjadi-jadi. Nyaris dari pagi sampe tengah malam menahan sakit kontraksi, akhirnya aku lemes juga. Udah ga bisa mlintir-mlintirin badan lagi rasanya. Tinggal air mata meleleh-leleh menahan sakit. Subhanallah, saat itulah baru disadarkan rasanya betapa perjuangan menghadirkan buah hati ke dunia adalah perjuangan yang tidak mudah. Mataku langsung mencari-cari ibu yang setia menemani. Saat menemukan wajah yang sudah membesarkan aku dengan segunung sabar dan cinta dari kecil sampai segede ini, air mata makin menjadi. Antara sakit, penat dan juga merasa begitu malu mengingat segala dosa-dosa pada Ibunda. Misteri hilangnya ketuban Semakin malam rasa sakitnya makin menjadi, namun bukaannya tetap ga maju-maju. Akhirnya setelah melewatkan malam yang rasanya panjang banget, pagi-pagi pukul 8.00 Wib aku di USG lagi. Dan you know what??? Air ketubannya udah nyaris habis!!! Masya Allah, kapan keluarnya?? Baik aku, aa maupun dr ony sama-sama kaget, secara selama ini riwayat USG nya baik-baik aja, dan jumlah ketuban selalu cukup. same question lagi, kapan keluarnya? kok bisa ga terasa? Hatiku dihinggapi cemas dan fikiran yang tidak-tidak, apalagi ditambah secara mental aku bukan termasuk orang yang kuat. Apalagi untuk hal-hal sepenting ini. Berbagai fikiran buruk muncul. Tapi kata dokter, ketubannya masih cukup untuk nunggu sampai 12 jam lagi sambil terus-terusan diobservasi. Jika jam 8 malam ini (Jumat) tetap ga ada kemajuan, mau tak mau harus dioperasi Diinduksi Setelah dicek pembukaan, ternyata jam 9 pagi aku baru bukaan 2. Mengingat rasa sakitnya yang udah lumayan, dan udah kontraksi di RS 12 jam, kirain bukaannya udah lebih dari itu. Mau ga mau saat itu juga aku langsung diinduksi dan dimasukkan ke ruang observasi. Setelah diinduksi itulah aku jadi makin tahu bahwa sakit yang dirasakan kemaren malam ternyata ga ada apa-apanya dibanding sakit setelah diinduksi untuk kasus bukaan kecil yang ga maju-maju kayak aku ini. Apalagi setiap kali diperiksa sampai sholat jumat masih bukaan 2 aja. Padahal rasa sakitnya udah menjadi-jadi dan kontraksinya udah tiap 2 menit sekali. Segala teknik-teknik pernafasan waktu senam hamil hilanglah sudah. Yang ada di kepala cuma sakit, sakit dan sakit. Saat air mata meleleh-leleh, Aa terus mengingatkan dengan dorongan semangat, doa-doa dan mengingatkan bahwa inilah perjuangan dan pengorbanan untuk seseorang yang kita sayang. Kalau inget sekarang rasanya malu :P. Rasanya belum jadi manusia yang cukup kuat. Uji mental Di ruangan observasi, selain aku ada 1 pasien lain yang juga diinduksi sejak bukaan 2. Berada di ruangan ini adalah suatu ujian mental tersendiri :P. Pasien tetangga ternyata udah bukaan 5 saat aku datang. Yang bikin keringat dingin adalah jeritan-jeritannya dan kalimat-kalimat yang menyertai jeritan tersebut. Mulai dari kalimat positif sampai kalimat-kalimat negatif yang rasanya kurang cocok untuk diceritakan. 5 Jam berada 1 ruangan dengannya benar-benar bikin nyaliku ciut. Terus terang. Karena beliau sudah bukaan 5 sedang aku baru bukaan 2. Dalam hati aku membayangkan saat bukaan 5 nantinya apa aku juga akan seperti itu? Apakah rasanya sakit luar biasa? Kembali kepada kenyataan bahwa secara mental aku bukan orang yang kuat, terus terang bersebelahan dengan pasien tersebut bikin nyali tambah ciut. Jantung bayi mengencang Jam 12 siang masih di level bukaan 2. Akhirnya cuma bisa pasrah, semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik. jam 12.30 suster datang dan menyatakan bahwa denyut jantung bayi sudah di atas normal. Normalnya sampai 140, bayiku menunjukkan sudah menyentuh angka 170 bahkan kadang-kadang 190. Sepertinya induksi sudah tidak bisa diteruskan. Hal ini sudah tidak boleh dibiarkan apalagi melihat pembukaan yang tidak ada kemajuan. Diputuskan bahwa aku harus segera dioperasi. Direncanakan pukul 2 dr Ony sudah ditempat karena sekarang sudah berada di jalan. Dan aku sudah tidak boleh makan apa-apa lagi. Kebetulan daripagi memang cuma bisa minum, tidak nafsu makan. Terus terang hatiku gak karuan mendengar suster menyebut-nyebut masalah jantung bayi. Rasanya rela menanggung sakit seribu kali dari ini, rasanya rela melakukan apa saja, mengorbankan apa saja asal bayiku baik-baik saja. Penantian dari pukul 12.30 sampai pukul 2 siang rasanya adalah saat paling lama dalam hidupku. Pikiranku kembali diliputi cemas walau suster bilang ini bukan kondisi yang buruk. Tetap saja hatiku tidak tenang. Apalagi mengingat sejarah hilangnya ketuban tanpa jejak. Bagaimana kalau ketubannya habis? Jantung bayi terlalu cepat itu artinya apa? bagaimana kalau dst dst dst…. Memang saat itu rasanya aku bukan manusia yang tabah dan tawakal. Tapi penuh dengan kecemasan, fikiran buruk dan kegelisahan. Rasanya saat itu kualitas diri teruji dan hasilnya begitu nyata. Namun di sisi lain, rasanya mau memberikan apa saja, mengorbankan apa saja, asal bayiku baik-baik aja. Tak henti-henti berdoa padaNya Operasi. Jam 2 kurang, aku dibawa ke ruang operasi. Dengan persiapan ini itu termasuk bius separuh badan, akhirnya pukul 2.15 aku benar-benar telah berada di ruang operasi lengkap dengan dokter-dokter, suster dan aa. Namun setahuku aa cuma berani menyaksikan sampai goresan pertama pisau operasi, setelah itu sibuk mengusap-usap kepalaku menularkan kekuatan dan keberanian. Pukul 2.37 dokter Ony tiba-tiba berkata : “Ya ampun, kering benar ketubannya”, dan kemudian antara percaya dan tidak aku mendengar lengkingan tangis bayi… Subhanallah… rasanya lega luar biasa. Walau misteri hilangnya ketuban masih menjadi tanda tanya, lega ini tak terkatakan. Yang jelas ini pelajaran buat aku, bahwa ketuban ternyata bisa menghilang tanpa kita sadari, walaupun rata-rata orang pasti sadar saat ketuban keluar (secara ketuban itu volumenya sangat besar). Suatu saat aku ingin mempelajari tentang ini. Mengapa ketuban bisa pecah tanpa terasa? apa penyebabnya? dan bagaimana mengenali tanda-tandanya. Menurutku ini sesuatu yang kelak harus benar-benar dipahami jika diberi kesempatan hamil lagi. Bertemu Hafidz Tak lama kemudian Hafidz yang sudah diazankan oleh Abahnya, telah dibersihin, dan memakai topi diperlihatkan oleh seorang suster padaku. Subhanallah, rasanya luar biasa. Amazing. Susah payah menahan tangis terharu. Inilah dia yang telah berbagi berat badan denganku 39 minggu 2 hari lamanya 😛 (btw seminggu habis melahirkan beratku susut 8kg :P). Inilah dia belahan jiwa yang selama ini cuma bisa diajak ngobrol dari luar perut. Pandangan pertama langsung jatuh cinta. Ingin mendekap, memeluk, mencium… tapi apa daya badan ga bisa gerak (dan ga boleh gerak untuk 24 jam berikutnya) Hafidz kemudian ditaruh didadaku, sembari dokter bedah sibuk menjahit. 20 menit kemudian hafidz berhasil menyusu,alhamdulillah. Setelah 5 menit malah makin asyik menyusu dan akhirnya menangis saat suster kemudian harus mengasingkan aku ke ruang observasi selama 2-3 jam berikutnya sedang Hafidz dibawa ke ruang bayi. Setelah 2 jam lebih di pengasingan, akhirnya aku dikembalikan ke kamar dalam keadaan masih belum bisa dan belum boleh bergerak apalagi makan :p (weleh.. udah laper aja, maklum dari pagi belum makan). Namun perasaan laparnya hilang saat tidak lama kemudian hafidz dibawa oleh suster-suster ke kamar dan menginap bareng karena aku menginginkan Hafidz diberi ASI eksklusif, sehingga tidak perlu dibawa ke ruang bayi lagi kecuali untuk dimandikan setiap pagi. Hafidz lahir dengan bobot 3710gr dan panjang 50cm Mohon doanya ya teman-teman :) Thanks to Dr.Ony O iya, pada kesempatan ini aku juga ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya buat dr.Ony atas dukungan, perhatian dan bantuan dari masa kehamilan sampai selesai persalinan. Banyak teman dan juga rekan di kantor yang mempertanyakan knp kok berobat jauh-jauh banget ke Tambak, dan bukan ke RS rujukan kantor. Kalau di RS-RS rujukan kantor kan tinggal mengurus surat kerjasama dengan kantor, lalu tanda tangan. Sedang di RS lain segala pembayaran harus ditalangin dulu baru diganti kantor kelak. jawabannya cuma 1: ngejar dr.Ony. Aku sudah sering dengar ibu-ibu hamil yang harus gonta ganti dr sampai berkali-kali karena ‘tidak cocok’ dan aku rasanya ga ingin seperti itu. Cape bo. Makanya setelah dengan DSOG pertama aku merasa ga cocok, langsung nyari-nyari info DSOG yang ok punya dan atas bantuan banyak temen2 (terutama di MP) bertemulah kami dengan dr Ony. Sejak pertemuan pertama langsung jatuh cinta. Duh, dr ini teh ramaaaaaaaaah banget, sangat komunikatif, sangat perhatian, sangat detil, pinter, keibuan dan jago banget membesarkan hati pasien. Again, karena secara mental dalam banyak hal aku ini bukanlah termasuk orang yang kuat, rasanya pas banget ketemu dengan karakter dr Ony. So, bela-belain deh berobatnya ke Tambak. Lagian itung-itung sekalian mengenal Jakarta. Masa ngertinya cuma berkisar dari Monas, kwitang sama setia budi hehehe :P. Sekarang jadi tahu dikit lah ama pasar rumput, pintu air manggarai (hehe nambah dikit) Pokoknya dr Ony oke banget deh. Highly recommended. So, buat teman-teman yang sedang hamil atau merencanakan kehamilan mungkin boleh mempertimbangkan :), Buat dr Ony, semoga Allah membalas segala kebaikan dan kebesaran hatinya dalam membantu beragam macam pasien dengan keberkahan dan  kebaikan yang berlipat ganda. Amin

Selamat Datang Belahan Jiwa

Alhamdulillah telah lahir putra pertama kami, Hafidz,pada hari Jumat tanggal 14 Maret 2008 di RSIA Tambak Manggarai dengan panjang 50cm berat 3710gram. Baru bisa ngabarin di internet karena ibunya juga baru agak pulih dan koneksi di internet memang susaaaaaaaah buanget dari kontrakan kito 😀 Cerita tentang lahirnya menyusul ya.. Mohon doa teman-teman ya buat anak pertama Bundo Reni dan Abah Yoyo ^_^ Reni juga mengucapkan Barakallah atas lahirnya putri pertama uni Riry di Houston, putri pertama uni Yuana di NZ dan putra kedua Dianti (Bunda Majid) di Eindhoven. Mohon maaf belum bisa melakukan kunjungan2 via Multiply maupun email. Internetannya susah banget, insyaAllah nanti kunjung mengunjungi lagi setelah cuti :) Abah dan Bunda mengucapkan terimakasih sebesar besarnya atas dukungan teman-teman, sahabat dan rekan-rekan baik yang telah datang berkunjung, lewat sms, telpon maupun media lainnya. Doakan Hafidz jadi anak yang sholeh ya, mencintai Quran dan selalu menjadi matahari (raditya) Abah dan Bunda :) Selamat datang Radityaku… matahariku…

[Cluster] Rumah Tangga, Pembelajaran Tiada Akhir

Ini adalah tulisan dari aku, yang baru 4 bulan lebih beberapa hari belajar mengenal apa itu rumah tangga. Tentunya pengetahuan baru seujung kuku, pengalaman baru sepeminuman teh kalau dalam istilah dunia persilatan. Belum layak rasanya menyimpulkan apa-apa, namun bukan berarti juga tidak boleh menggoreskan sedikit makna, bukan?

Rumah tangga itu ternyata menakjubkan. Menakjubkan dari segala pernak perniknya. Suka dukanya. Awalnya, prosesnya dan setiap detiknya. Menakjubkan belajar mengenal sosok laki-laki yang nyaris pertama dalam hidup. Ayah juga laki-laki sih, namun hanya muncul samar-samar dalam ingatan usia 3 tahun. Uda kanduang juga laki-laki namun sudah diambil Allah saat aku belum muncul ke dunia. Adik juga laki-laki sih, namun dari dia SMP aku sudah meninggalkan rumah (ketemu setahun atau setengah tahun sekali tahu-tahu sudah jadi bujang gadang! Pangling!). Jadilah ibu, seorang wanita tulen, sosok yang paling dekat dengan hari-hari Menakjubkan perlahan mengenal sosok seorang laki-laki dan tertatih menyebutnya ‘kakak’ juga kegelian ketika lidahnya bengkok-bengkok membahasakan dirinya dari ‘ane’ menjadi ‘Aa’. Menakjubkan menyelami betapa ‘berbeda’nya dunia laki-laki. Mulai dari cara makan, cara bicara, cara mengerutkan kening, cara mengomentari sesuatu, cara berfikir, bahkan cara meletakkan handuk sehabis mandi ! Beda ! Perbedaan yang tidak selalunya bisa benar-benar ‘klop’. Namun tetap saja menambahkan satu rasa yang hebat setiap hari. Rasa sayang ! Tiba-tiba saja kita bisa menjelma memiliki keahlian banyak peran dengannya. Menjadi teman, menjadi partner diskusi, teman debat!, menjadi adik, menjadi ibu, menjadi sahabat sejati. Tiba-tiba saja proses pengenalan dan kedekatan itu membuat hidup kita penuh dengan kejutan setiap saat. Ada-ada saja hal baru yang kita pelajari darinya. Tentang dia, tentang diri kita. Kita tidak hanya menjadi tambah pintar mengenali dirinya tapi juga mengenali dan menyelami diri sendiri. Lihat! Luar biasa pembelajaran di dalamnya. Seperti tadi kukatakan. banyak perbedaan yang tidak selalunya bisa benar-benar ‘klop’. Namun tetap saja menambahkan satu rasa yang hebat setiap hari. Rasa sayang ! “Rabbi, mudahkanlah kami untuk mencintai dan dicintai” Rumah tangga itu ternyata menakjubkan. Menakjubkan dari segala pernak perniknya. Suka dukanya. Awalnya, prosesnya dan setiap detiknya. Saat ini ada lagi hal baru yang harus kupelajari. Tentang sebuah kehidupan baru yang sedang tumbuh dalam tubuh dan berbagi denyut jantung denganku. Duhai kamu yang kelak menjadi cinta dan harapan kami. Menjadi cerminan pribadi, prilaku dan didikan.Tiba-tiba saja begitu banyak hal baru yang dipelajari. Awalnya, prosesnya dan setiap detiknya. Luar biasa ternyata pembelajaran dan persiapan untuk menjadi seorang ibu. Belum 100 hari merawat sebuah nyawa di dalam tubuh rasanya sudah demikian luar biasa. Mestinya belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah dilakukan ibu kita sampai kita sebesar ini. Malu rasanya membayangkan berapa ratus kali telah menyakiti hati ibu? Berapa ribu kali kita telah mengecewakan ibu? Berapa juta kali kita menzolimi ibu kita? Betapa ibu nyaris tidak pernah membalas dengan balik menyakiti hati kita. Berbeda dengan kita, ibu tidak pernah bersungguh-sungguh ingin menyakiti hati anaknya. Kesadaran telak yang baru begitu menohok muncul saat merasakan persiapan menjadi ibu. “Ibu, andai bisa kami pesankan rumah di Surga untukmu” Kata sahabatku, menikah adalah… Saat dimana seseorang tdk hanya memikirkan dirinya sendiri lagi Saat dimana ada teman untuk berbagi, ada teman untuk bersama2 menuju cinta-Nya Saat dimana orang tua bertambah, dan keluarga pun bertambah Saat dimana hati menjadi tenang dan bahagia tanpa harus lupa bahwa ada setumpuk tanggung jawab juga disana Saat dimana kesempatan tuk menjadi seorang ibu mendekat Saat dimana peluang sebagai istri sholehah yg akan mendapatkan syurga-Nya ada Saat dimana tergenapkan separuh agama.. “Rabbi, mudahkanlah kami untuk mencintai dan dicintai” Dan aku masih ingin lebih banyak belajar lagi (3 sept 2007) detik-detik menuju angka 26

Asmaul Husna

AL-ASMAUL-HUSNA (The beautiful names of Allah) http://www.ezsoftech.com/islamic/iqlas5.asp http://wahiduddin.net/words/99_pages/wazifa_n.htm

1 ar-Rahmân The Lovingly Beneficent, Most Kind and Gracious
2 ar-Rahîm   The Most Merciful,  The Most Compassionate
3 al-Malik       The Ruler,  The King
4 al-Quddûs   The Holiest,  The Most Pure
5 as-Salâm   The Source of Peace,  The Flawless
6 al-Mu’min   The Remover of Fear,  The Giver of Tranquility
7 al-Muhaimin   The Protector,  The Bestower of Security
8 al-‘Azîz       The Mighty,  The Eminent
9 al-Jabbâr   The Restorer,  The Repairer
10 al-Mutakabbir   The Supremely Great,  The Perfection of Greatness
11 al-Khâliq     The Creator,  The Planner
12 al-Bâri’   The Maker from Nothing,  The Evolver
13 al-Musawwir   The Fashioner,  The Bestower of Forms
14 al-Ghaffâr   The All-Forgiving,  The Absolver
15 al-Qahhâr   The Ever-Dominant,  The Conqueror
16 al-Wahhâb   The Liberal Bestower,  The Giver of Gifts
17 ar-Razzâq   The Supplier,  The Provider
18 al-Fattâh   The Opener,  The Revealer
19 al-‘Alîm   The All-Knowing,  The Omniscient
20 al-Qâbid   The Withholder,  The Restrainer
21 al-Bâsit   The Expander,  The Unfolder
22 al-Khâfid   The Humbler,  The One who Softens
23 ar-Râfi’   The Exalter,  The Uplifter
24 al-Mu’izz   The Bestower of Honor,  The Strengthener
25 al-Mudhill   The Disgracer,  The Dishonorer
26 as-Samî’   The All-Hearing,  The Ever-Listening
27 al-Basîr   The All-Seeing,  The All-Perceiving
28 al-Hakam   The Judge,  The Arbitrator
29 al-‘Adl   The Just,  The Equitable 
30 al-Latîf   The Subtle,  The Gracious,  The Refined
31 al-Khabîr   The Inner-Aware,  The Reality-Knower
32 al-Halîm   The Forbearing,  The Calm-Abiding
33 al-‘Azîm   The Supreme Glory,  The Most Grand
34  al-Ghafûr   The Forgiving,  The Pardoner
35 ash-Shakûr   The Most Grateful,  The Most Appreciative
36 al-‘Alî   The Highest,  The Exalted
37 al-Kabîr   The Greatest,  The Most Great
38 al-Hafîz   The Preserver,  The Protector
39 al-Muqît   The Nourisher,  The Sustainer
40 al-Hasîb   The Accounter,  The Reckoner
41 al-Jalîl   The Majestic,  The Glorious
42   al-Karîm   The Generous,  The Bountiful
43 ar-Raqîb   The Watchful,  The All-Observing
44 al-Mujîb   The Fulfiller of Prayers,  The Responsive
45 al-Wâsi’   The All-Embracing,  The All-Pervading
46 al-Hakîm   The Perfectly Wise,  The Most Judicious
47 al-Wadûd   The Loving-Kindness,  The Most Affectionate
48 al-Majîd   The All-Glorious,  The Majestic
49 al-Bâ’ith   The Awakener,  The Resurrector
50 ash-Shahîd   The Witness,  The Testifier
51 al-Haqq   The Truth,  The Only Reality
52 al-Wakîl   The Trustee,  The Advocate
53 al-Qawî   The Inexhaustible Strength, The Supremely Strong
54 al-Matîn   The Firm,  The Steadfast
55 al-Walîy  The Protecting Friend,  The Nearby Guardian
56 al-Hamîd   The Praiseworthy,  The Laudable
57 al-Muhsî   The Reckoner,  The Appraiser
58 al-Mubdi’   The Starter, The Beginner,  The Originator
59 al-Mu’îd   The Restorer,  The Renewer
60 al-Muhyî   The Giver of Life,  The Reviver
61 al-Mumît   The Creator of Death,  The Life-Taker
62   al-Hayy   The Ever-Living,  The Alive
63 al-Qayyûm   The Self-Existing,  The Self-Subsisting
64 al-Wâjid   The Finder,  The Resourceful
65 al-Mâjid   The Noble,  The Generous
66 al-Wâhid   The One,  The Manifestation of Unity
67 al-Ahad   The One,  The Only One
68   asSamad   The Satisfier of All Needs, The Eternal
69 al-Qâdir   The Able,  The Empowered,  The Capable
70 al-Muqtadir   The All-Determining,  The Prevailing
71 al-Muqaddim   The Expediter,  The Promoter
72 al-Mu’akhkhir   The Delayer,  The Postponer
73 al-Awwal   The First,  The Pre-Existing
74 al-âkhir     The Last,  The End and Ultimate
75 azZâhir   The Manifest,  The Evident
76 al-Bâtin   The Hidden,  The Inner
77 al-Wâlî   The Sole Governor,  The Friendly Lord
78 al-Muta’âli   The Supremely Exalted,  The Most High
79 al-Barr   The Gracious Benefactor,  The Source of Goodness
80 at-Tawwâb   The Acceptor of Repentance,  The Oft-Forgiving
81 al-Muntaqim   The Avenger,  The Inflictor of Retribution
82 al-‘Afûw        The Forgiver,  The Effacing
83 ar-Ra’ûf   The Kind,  The Tenderly Merciful and Consoling
84 Mâlik al-Mulk   The Master of the Kingdom
85 Dhû-l-Jalâli wal-Ikrâm  The Lord of Majesty and Generosity
86 al-Muqsit   The Equitable,  The Just
87 al-Jâmi’   The Gatherer,  The Uniter
88 al-Ghanî   The Self-Sufficient, The Independent
89 al-Mughnî   The Bestower of Wealth,  The Fulfiller of Needs
90 al-Mâni’   The Preventer,  The Defender
91 adDârr   The Corrector, The Distresser
92 an-Nâfi’   The Creator of Good,  The Auspicious
93 an-Nûr   The Light, The Illuminator,  The Enlightenment
94 al-Hâdî   The Guide,  The Leader on the Right Path
95 al-Badî’   The Wonderful Originator,  The Awesome Inventor
96 al-Bâqî   The Everlasting,  The Ever-Present
97 al-Wârith   The Inheritor of All,  The Supreme Heir
98 ar-Rashîd   The Appointer to the Right Path,  The Director
99  asSabûr   The Patiently-Enduring, The Long-Suffering

Dicemburui bidadari?

Salah satu sahabat tercinta di Singapura sana, mantan teman sekamar bertahun-tahun lamanya, yang aku tahu begitu menjaga diri dan ibadahnya… menulis begini:

ingin jadi wanita yg membuat cemburu bidadari…. hmmm, apa engineer bisa membuat bidadari cemburu ya?

you’re so inspiring, Bu… Aku iri. Semoga tak ada momen ramadhan mulia ini yang terlewat dalam kesia-siaan. Semoga tidak ada malam-malam yang terlewat tanpa kenikmatan bersimpuh di hadapanNya Yang Maha Cinta.

Strategi menawar adalah: Jangan ditawar

Menyandang takdir sebagai warga suku Minang (lebih dikenal dengan suku Padang) membuat saya kadang-kadang harus mengaminkan bermacam-macam stereotype, termasuk pelit, jualan oriented dan jago menawar. Terhadap 2 stereotype pertama biasanya saya cuek aja, biarlah angin yang menjawab(ceileee…kamana atuh angiiin..), nah stereotype ke-3 nih yang menjadi tantangan tersendiri. Karena layaknya anak kos yang kerap kali membahas setiap detil peristiwa dengan penghuni-penghuni lain, rasanya agak-agak tertekan selalu mendapat barang yang sama dengan harga tertinggi karena ketidak piawaian saya dalam tawar menawar (dengan alasan tak tega). Lalu keluarlah kalimat maut yang membuat saya suka pingsan dalam hati “Padang palsu ni yeee…”    Namun dari hari ke hari Continue reading Strategi menawar adalah: Jangan ditawar