[Traveling] Edinburgh 2008

prolog Tiba-tiba saya tergelitik untuk menuliskan sedikit pengalaman di Edinburgh setelah akhir-akhir ini mempunyai ketertarikan yang tinggi tentang travelling. Tanpa sadar ketika berada di toko buku saya mulai sering berlama-lama di buku-buku mengenai tempat-tempat menarik di seluruh dunia sambil berfikir-fikir, kapan ya bisa ke sana, buy the experience, mengunjungi tempat-tempat baru, budaya baru, sejarah sebuah peradaban dan hal-hal lain yang berhubungan dengan tempat tersebut. Sepakat dengan perkataan Ibnu battuta: Traveling, it leaves you speechless, then turns you into a stranger. Di usia kanak-kanak saya sempat berkhayal tentang 2 tempat yang sangat ingin saya kunjungi, yaitu Jepang dan Scotlandia. Alasannya sederhana saja. Jepang; saya sangat suka mendengar bahasa jepang yang terdengar ‘lucu’ dan penduduknya yang ‘terkesan’ ramah. Scotlandia; tak lain adalah pengaruh dari film kartun ‘candy-candy’. Saya terpesona dengan baju tradisional yang dikenakan oleh Anthony, Archie dan Steir (tartan lengkap dengan bagpipe-nya). Dan sebuah adegan yang menjadi favorit saya sampai sekarang, ketika so-called Prince of the Hill lengkap dengan Scottish outfit dan bagpipe menghibur candy kecil (6 thn) yang sedang menangis sambil berkata ““Little girl, you are prettier when you smile than when you cry”.  Anak-anak kadang punya cita-cita yang alasannya ‘gak jelas’ 😛 On the way to Maka pada suatu kesempatan yang mungkin tidak akan terulang lagi, berangkatlah saya ke Edinburgh setelah beberapa hari di London. Menuju Heathrow setelah menghabiskan beberapa jam di Bicister yang katanya wajib dikunjungi. Menurut saya yang lebih suka ‘buy the experience’ instead of belanja, Bicister adalah Continue reading [Traveling] Edinburgh 2008