[Cluster 15] Ayah meninggal tadi pagi

Dear… Diary kuingin cerita… kepadamu.. tentangnya… yang slalu.. ada di hatiku… Ayah… Tak banyak memang yang dapat aku ingat dan aku gambarkan jika bersentuhan dengan kata itu, kecuali selembar poto usang puluhan tahun silam. Di sana ada wajah kanak-kanakku yang sedang menangis dan memegang mainan, dan beliau memelukku sambil tersenyum riang. Laki-laki berkulit sawo matang, berpakaian sangat rapi, licin sempurna (sesuatu yang menurun pada adikku), dan senyumnya yang khas (sesuatu yang juga menurun pada adikku) Ayah… Saat kanak-kanak aku sering tak habis pikir. Kenapa yang kutahu tentangmu hanya selembar foto usang itu. Kenapa tak pernah muncul wujud nyatamu, sapaanmu, candamu atau senyummu seperti di foto itu. Padahal setiap orang mengatakan bahwa kau masih ada di dunia ini, bahkan kita masih sekota. Tapi kenapa kau tak pernah datang. Di kala itu aku merasa segalanya sungguh aneh. Pernah juga begitu iri kepada kawan-kawan mungilku yang kadang ‘bertengkar’ dengan ayahnya,bertengkar dengan seseorang yang tak pernah aku miliki Ayah… Ketika beranjak dewasa aku kemudian mengerti bahwa segala sesuatunya memang telah terjadi begitu rumit. Islam memang menghalalkan poligami bahan tanpa seijin istri pertama. Namun rupanya tak semua wanita sanggup menjadi istri bernomor (bahkan meskipun menjadi yang pertama). Hal itulah rupanya yang kemudian memisahkan kita. Menghilangkan dirimu dari hidupku dan hanya menyisakan kenangan akanmu dalam selembar foto usang itu. Ayah… Selalu ada satu pertanyaan menghantui hidupku. Kenapa kau tak pernah berusaha mencariku, Yah. Kenapa kau biarkan kenangan akanmu perlahan hilang seiring berlalunya waktu. Kenapa kau biarkan rinduku perlahan tergerus berganti tanda tanya dan kehampaan. Kemana engkau, Ayahku. Suatu saat aku pernah sangat ingin bertemu. Sekadar menatap wajahmu, sekadar berusaha mencari garis-garis wajahmu di wajahku, sekadar ingin membandingkan seberapa jauh wajahmu dimakan usia dibandingkan dengan wajahmu di foto usang itu. Tidak Ayah. Aku ingin bertemu bukan karena ingin memelukmu, sebab sosokmu begitu asing. Aku ingin bertemu bukan karena ingin mempunyai sebuah foto keluarga lengkap denganmu dan ibu, sebab itu hanya akan menorehkan luka berlapis di hati beliau. Aku ingin bertemu bukan karena ingin menceritakan kisah-kisahku, sebab kita tak akan pernah seakrab itu. Aku ingin bertemu bukan karena ingin marah padamu atas yang terjadi di masa lalu. Aku ingin bertemu sebab ingin menggenapkan sebuah rindu… Rindu saja, tak banyak muatan lain, bahkan sejumput sayang. Sebentuk rindu yang mungkin cuma aku yang bisa memahaminya Ayah… Ternyata kemudian aku harus menuntut ilmu di sebuah tempat yang jauh, namun aku pergi tetap dengan membawa harapan-harapan itu. Harapan bahwa suatu saat akan ada kesempatan bagi kita untuk bertemu. Duduk berdua, mungkin berkenalan terlebih dahulu karena kita nyaris tak saling kenal. Lalu saling bercerita, itu saja. Ah tidak Ayah, Aku tidak berani mengharapkan kau akan memberikan saran-saran kebapakan kepadaku, putri sulungmu, sebab kita tentu masih terlalu asing. Aku juga tidak akan mengharapkan bisa tertawa terpingkal-pingkal denganmu dan kau mengusap-usap kepalaku dengan sayang. Ah tidak Ayah, khayalku terlalu jauh. Aku cuma ingin bertemu dan sedikit bernostalgia… tentang foto itu terutama. Apa yang kau rasakan saat di foto itu, dimana kita kala itu, kenapa aku menangis, dan mengapa tawamu begitu matahari…itu saja Namun kenapa kau tak kunjung datang. Bahkan untuk sekedar menjadi wali nikahpun harus kau wakilkan, dengan alasan malu dan tempat tinggalmu yang begitu jauh di luar propinsi. Ah Ayah, apakah rasa malu itu bisa mengalahkan rindumu padaku? Ayah, tidak bisakah kau melipat jarak walau sejenak hanya untuk menyaksikan putri kecilmu di foto itu duduk bersanding dengan seseorang yang akan menggantikanmu menjadi wali hidupnya. Tidakkah terbayangkan rindu hatiku yang hanya bisa mengenalmu lewat foto usang itu? Bahkan suaramu pun tak kukenal. Tidak bolehkah aku bertemu denganmu Ayah? Atau kubalik saja pertanyaannya, tak tersisakah sejumput rindu untukku, wahai Ayah. Bukankah telah puluhan tahun kau tak pernah melihatku? Ada apa denganmu Yah? Tak tersisakah sedikit rindu untukku? Lalu berita pagi ini sungguh mengejutkan. Engkau ternyata telah meninggal dunia pagi tadi karena serangan jantung. Engkau sekarat beberapa hari ini dalam rawatan adik dan keluargamu yang lain itu, namun kenapa tak seorangpun mengabariku Ayah. Semua orang mengatakan bahwa engkau selalu menanyakan kabarku di saat-saat terakhirmu (oh leganya, ternyata engkau masih mengingatku), namun melarang untuk sekedar memberi tahuku. Dengan alasan malu. Malu padaku. Malu dengan segala yang telah terjadi. Takut aku akan menolakmu Ah Ayah, teganya engkau. Bahkan untuk sekedar mendengar suaramu di saat-saat terakhirpun tak kau beri kesempatan. Kemanakah rindu ini harus kukubur. Bahkan karena pendarahan hebat, jasadmu pun tak bisa menunggu kedatanganku untuk sekedar memandangmu terakhir kalinya. Ayah… Tak banyak memang yang dapat aku ingat dan aku gambarkan jika bersentuhan dengan kata itu, kecuali selembar poto usang puluhan tahun silam. Begitu indah senyummu di foto itu. Ah ayah, setidaknya aku tahu bahwa dulu di suatu masa, aku pernah sangat kau sayang.. bahwa dulu di suatu masa, aku pernah sangat kau sayang.. bahwa dulu di suatu masa, aku pernah sangat kau sayang.. bahwa dulu di suatu masa, aku pernah sangat kau sayang.. mungkin bukankah di foto itu senyummu begitu lebar dan wajahmu begitu bangga Selamat jalan Ayah… Nampaknya waktu tak pernah mengijinkan kita untuk kembali mengulangi nostalgia di foto itu.. Selamat jalan Ayah, semoga Allah menerima amal shalihmu dan mengampuni dosa-dosamu. Semoga keluargamu yang di sana diberi ketabahan berlipat-lipat atas kepergianmu dari hidup mereka. Selamat jalan Ayah, semoga kau tahu bahwa selalu ada do’a-do’a tulus yang mengalir untukmu Selamat jalan Ayah, andai kau tahu bahwa aku senantiasa rindu