[Resensi] Sang Pemimpi

Buku ini paling saya sukai diantara tetralogi Laskar Pelangi lainnya (saya belum baca Maryamah Karpov). Penuh analogi berupa deskripsi-deskripsi yang begitu menggigit dan cerdas.  Sosok Arai begitu lengket di hati. Anak kampung yang miskin dan penuh pengalaman masa kecil yang pahit, namun punya semangat dan keyakinan yang kuat untuk sukses dalam hidup. Seperti tak mengenal kata ‘putus asa’ dalam hidup. Dalam beberapa kesempatan, saya merasa malu dengan kobar semangat yang dia miliki. Sekaligus merasa terpacu untuk makin optimis dalam hidup. Bagian paling menyentuh ketika Ikal turun drastis prestasinya, sang ayah tetap datang ke sekolah, mengayuh sepeda sekian belas kilometer, menyiapkan satu2nya baju terbaik dari malam sebelumnya, cuti dari pekerjaannya sebagai buruh dan dengan senyum dan sikap yang sama menepuk2 bahu anaknya dengan sorot mata kebanggaan yang tidak berubah. Sebuah ungkapan cinta kepada anaknya, dalam kondisi apapun. Suatu didikan bijak tanpa kata yang justru lebih menohok Ikal ketimbang sebuah pernyataan marah.

Tali Pusat

Wahai dede di Perut… Ayo de, tali pusarnya dilepasin ya de ^_^. Jangan dimain2in ya de.. Apalagi sampai dililitin ke leher begitu. Main ama tali pusarnya udahan ya de :).  Kan kasian.. dedenya ntar sakit. Dilepasin atuh yah honey sayang :). Abah n umminya juga jadi kuatir.. Nanti dede kenapa-kenapa.. Dilepasin ya de :). Muach muach…