[Cluster 14] De Javu

 Desember 2005 Malam merayap menjemput hari. Tak ada sinar bulan keperakan memantul mantul di Singapore river seperti di cerita2 fiksi. Yang ada hanyalah lampu lampu kota menyala benderang dengan angkuh. Terkesan bangga akan cantiknya yang semu. Seakan lupa bahwa sinar bulan tetap tak terkalahkan. Cantiknya alami. Walau tak terlihat namun semua tahu bahwa ia ada. Walau tak mencolok namun semua tahu bahwa indahnya abadi. Menawan. Carilah sinarnya di desa bukan di kota ini. Lalu kesederhaan yang memukau itu akan memenjarakan hatimu untuk betah berlama lama membersamainya [it’s not about the money] 5,5 tahun belakangan ini dia selalu kesini kala perasaan hati tidak normal. Tempat yang indah, mengingatkan pada kampung halaman yang dikelilingi sungai-sungai besar dengan lebar puluhan meter. Mesjid Mohd Ali terletak under ground, di bawah gedung-gedung perkantoran, hanya beberapa meter dari pinggir sungai. Malam merayap, sebentar lagi mungkin Isya. Bangku bangku di pinggir sungai dipenuhi manusia. Ada yang kelelahan abis jogging, ada yang sekadar berkumpul-kumpul, kebanyakan sedang jepret sana sini. Nun di sebelah kiri berjejer tenda-tenda menaungi sepanjang pinggirian sungai sampai ke ujung jalan. Itulah Boat Quay, salah satu tempat tujuan wisata turis-turis. Disebut Clarke Quay juga. Awalnya dia bingung bedanya apa?. Ternyata tempatnya sama. Cuma yang satu adalah di North part of Singapore River. Satunya lagi di South part of Singapore river. Sungai Singapura bersih dan dipenuhi kelap kelip kapal yang membawa pelancong mengarunginya dari ujung ke ujung. Di sebelah kanan Fullerton Hotel berdiri gagah dan mewah. Seperti istana mungil. Disekelilingnya gedung-gedung pencakar langit menjulang angkuh Sesekali kilatan kamera turis-turis dari perahu memantul di keremangan. Mengabadikan kemegahan di pinggir sungai. Kepalanya berdenyar-denyar. Setiap masalah adalah pijakan bagi kita untuk melompat lebih tinggi lagi memang. Yang dia takutkan hanyalah jika sampai lupa bersyukur. Dia memang musti meninggalkan negeri ini segera. Suasananya tak lagi baik untuk ruhiyah. Newton menemukan teory relativitas, tapi seharusnya dia juga menemukan teori sensitivitas. Kadang begitu lelah ketika satu-persatu sekelilingnya mulai menuntut jawaban. Jiwanya tak lagi ada di sini. Orang-orang bilang kalau mau kaya tetaplah disini, but tak semua orang paham bahwa, it’s not about the money 09.00 pm, Tepi sungai, Singapura [Kamu meninggalkanku-1]Lama-lama perempuan itu sadar, tak mungkin untuk menyenangkan semua orang dan melelahkan untuk meyakinkan semua orang. Lama-lama perempuan itu sadar tidak perlu untuk melakukan itu semua. Dan akhirnya memutuskan bahwa senyuman adalah jawaban paling cukup. Singkat, padat dan sakral. Lagipula, kepala tak mampu menampung banyak hal dalam bersamaan.Teringat sahabat yang lagi di Jakarta bulan ini melengkapkan separuh agamanya. Wah kangen berat. Beliau yang begitu menyejukkan dengan segudang positive thinking dan nasihat2 bijaknya. Dengannya kadang ada hal-hal yang sama-sama manis jika dibiarkan tak terbahas. Dengannya mudah saling memahami bahwa keidealan yang kadang dituntut dan dibentuk oleh suatu golongan tak bisa dipaksakan untuk setiap orang, kembali karena latar belakang, kisah hidup dan keberuntungan setiap orang berbeda-beda. Apalagi mengatakan suatu prinsip yang kemudian malah disalahi sendiri prakteknya. Dengannya tak semua cerita musti mengalir karena kadang ada saatnya bagi jiwa untuk merenung, berfikir dan butuh waktu sendiri. Dengannya teori sensitivitas membalur erat dan rapat. Maka sungguh nyaman ketika ada hal-hal tertentu yang tidak saling dibicarakan. Persahabatan yang dihiasi husnuzhon dan penjagaan atas cerita satu sama lain. “Kamu tega meninggalkanku” kata perempuan itu ketika menyadari bahwa setelah menikah tentunya sahabatnya akan ikut sang pangeran ke negeri tulip. “Bukannya kamu yang meninggalkanku”, jawab sobatnya kalem “Kamu duluan menetap di Jakarta, bukan aku”. Ah ya benar juga. Mungkin kita saling meninggalkan. 09.00 pm, Tepi sungai, Singapura [Kamu meninggalkanku-2] Huff mana pernah perempuan itu menyangka kalau suatu saat mereka akan terpisah demikian jauh ya? Dengannya masa-masa belajar semasa kuliah terasa begitu menyenangkan. Dan pasti dijamin jatah 500 sms gratis sebulan bakal ga cukup jika sudah sibuk sms-an dengannya. Ah ya, bukan sahabatnya yang meninggalkannya, tapi tepatnya mereka saling meninggalkan. Ia berharap mereka masih akan tetap saling mendoakan ketika saling mengingat satu sama lain. 09.00 pm, Al Falah Mosque [the song that I sing] Malam memeluk hari, seharusnya sudah Isya dari tadi. Perempuan itu beranjak perlahan. Ah ya, dia sudah memutuskan sesuatu dan setiap keputusan punya aturan main sendiri. The Art of choosing. Seperti hidup yang terus berjalan maka tak ada alasan untuk menyerah kalah dan berhenti. Akan berpisah juga dengan sahabat-sahabat lama. Akan berpisah dengan negeri yang menawarkan begitu banyak kenyamanan. Akan berpisah dengan kemapanan. Maka adalah sebuah tantangan untuk merambah dunia yang benar-benar baru sendirian. Melangkah sendiri adalah suatu keniscayaan dan bukankah dari dulupun demikian. Jadi seharusnya tak ada alasan untuk gentar Baginya ini keputusan berat, namun cerita perempuan ini akan terus berlanjut… //Rupanya begitu banyak yg telah terjadi dalam 2 tahun ini *kangen spore river

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>